Skip to content

Yok!

Menyadari kehidupan yang serba praktis era ini memiliki banyak sisi yang perlu kita amati. Teknologi menyederhanakan segalanya. Visualisasi benar-benar membungkam kuatnya kata-kata. Dulu, untuk pergi ke rumah teman saja aku perlu singgah beberapa kali ke sembarang simpang untuk bertanya, kalau-kalau sudah terlewat. Dari tanya-bertanya itu pula aku punya cerita, oh ternyata ini yang namanya desa dompas, oh ternyata disini tempat jual-beli ikan yang mama pernah cerita, oohh oooh… ini loh rumahnya. But technology builds tough wall! Jangankan mencari rumah teman, lintas kota lintas provinsi saja serasa tak perlu lagi turun sebentar bertanya alamat, ada googlemap kok! Tapi dibalik itu semua ada satu frasa dari perjalanan yang diam-diam hilang. Frasa tentang membangun cerita yang berdampak tak pada hilangnya nilai kepedulian. Kepedulian apa?

Well, sebenarnya tulisan ini memang sedikit gamblang.

Hari ini hari senin. Hari yang benar-benar ku paksakan untuk menulis. Karena aku sadar tak semua kebiasaan “menikmati” secara maya kehidupan orang diluar sana akan membawa pesan positif untuk kehidupan nyata. Smartphone with dumb people, disaster. Satu hal yang benar-benar sulit adalah membiasakan yang tak biasa. Sedangkan yang sudah biasa saja bisa jadi tak bisa. Biasa ajalah woi, ojok ruwet ngene tulisanmu rim wkwk. Jadi ceritanya di kamar masih banyak buku bacaan yang masih tersampul rapi. Tapi karena memang sosial media lebih menarik dari pada tulisan tulisan  (sebenarnya menarik sih) saja, jadinya terlantar. Padahal aku sendiri yang memilih banyak buku di gramedia, bahkan belum setengah dari mereka aku baca.

Kau sadar tulisan ini semakin tidak jelas?

Menurut diskusiku dengan Dewi di Lab Thermo tadi siang, dalam sesi curhat betapa sulitnya untuk menuangkan ide ke dalam tulisan, secara sederhana seseorang kesulitan dalam menulis disebabkan oleh dua hal: 1) minimnya membaca 2) tipisnya pengalaman.

Yuhuuu ini yang terjadi detik ini, aku sulit terasa sangat sulit menulis karena akhir-akhir ini kerjaan ku hanya mengerjakan pabrik dan menyelesaikan proposal skripsi. Sisanya aku habiskan menikmati instagram, youtube, dota2, lala land, arrival, sherlock holmes, dan many things yang pasti bukan bacaan. Semua nya dalam bentuk audiovisual. Faktanya membaca akan membuat otak lebih mampu menyusun informasi yang masuk dalam bentuk yang lebih rapi dibandingkan menonton. Dan terlebih lagi, ada fase yang sangat berbeda dari hasil menonton menuju tulisan. Audiovisual yang kita tangkap lebih mudah disampaikan kembali dalam bentuk audiovisual pula. Ya, setelah menonton dan menikmati sosial media kita lebih mudah untuk menceritakan kembali ke teman-teman ketimbang menulis.

Next: pengalaman. In this context, pengalaman adalah kejadian yang dialami seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Misal hari ini saya digigit anjing karena lompat pagar manarul. Karena mengalami pengalaman yang unik ini, kita akan terdorong untuk menceritakan. Hampir 100% info dari apa yang kita alami terserap dengan baik. Dan itu juga yang memudahkan kita untuk menuangkan dalam bentuk tulisan. Harus aku sadari belakangan ini aku hanya menghabiskan waktu di kamar-warung makan-kampus-kamar-warung makan-lab, berulang-ulang tanpa ada hal baru. Dan parahnya lagi aku pun tak tau nilai apa yang dapat di tiap hari wkwk. Tapi tak sepenuhnya harus membuat pengalaman baru bisa menulis, melainkan bagaimana kita bisa menarik satu nilai dari setiap hal kita alami. Aku selalu terinspirasi dengan dailynote larilarikecil.tumblr.com penulisnya selalu cerdas menyampaikan setiap detail visual, emosi, pikiran yang padahal konteksnya hanya apa yang ia alami sehari hari.

Oh ya, faktanya manarul itu mesjid. Tidak ada anjing dan tidak ada pagar.

Sebagai solusi aku bertekad untuk membaca tumpukan buku yang ada di kamar: Tentang Kamu-Tere liye; Jalan Harus Terang-Dr. Ahmad Yani Basuki; Total Habibie-A. Makmur Makka; Catatan dan Pesan Blackberry Professor-Prof. Joni Hermana; Guantanamo Diary-Mohamedou Ould Slahi; buanyaaaak lagiiii buku lainnya. Aku harus-mesti-kudu-wajib memaksakan diri untuk selalu bisa menuliskan apapun yang dialami-dipikirkan-dirasakan dalam bentuk tulisan yang kuat dan bermanfaat.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” – Pramoedya Ananta Toer

Yok nulis!

-Kamar. 06 Februari 2017 [23:16]-

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *