Skip to content

“Yang duluan sajalah”

24 Ramadhan 1437 H.

Akhir ramadhan selalu menjadi puncak kesibukan. Pasar penuh sesak oleh ibu-ibu mencari daging dan sayuran, perkantoran riuh gaduh karena pembagian THR lebaran, kendaraan ramai memenuhi jalanan. Tapi tidak untuk siang ini.

Warga Sungai Pakning menghentikan kesibukannya, bergerak searah ke Mesjid Alhuda. Tepat di akhir adzan zuhur aku memarkirkan motor di samping mesjid. Ramai. Tak biasanya jamaah membludak seperti siang ini. “Iya aku baru dengar kabarnya tadi pagi” sambil berjalan menuju tempat berwudhu aku mendengar pembicaraan ringan pria berseragam PNS. Aku penasaran. Ruang utama mesjid sudah dipenuhi jamaah, sesak hingga menutupi pintu mesjid. Aku memperhatikan beragam seragam di ruang utama masjid, aneh. Muadzin berdiri mengumandangkan Iqomah, shalat dhuzur berjamaah dimulai. Tak sempat memperhatikan siapa yang menjadi imam, tapi diakhir shalat aku mengenali suara imam yang memimpin doa. “Kenapa berbeda, bukannya beliau imam Masjid Almukarramah tamatan madinah itu? Ada ap…” Belum genap aku bertanya-tanya dalam hati, pertanyaan ku terjawab.

Keranda hijau diusung ke shaf terdepan.

•••

“Bang, kapan pulang?” sapa anak lelaki sepelataran ku, menghampiri ku yang duduk di pinggiran marmer salah satu makam.

“Oi, udah dua minggu aku di Pakning”

“Sedih ya bang, aku aja ga nyangka. Aku kaget di shaf belakang subuh tadi, Bang”

“Kau subuhan di mesjid tadi pagi? Gimana kejadiannya?” aku memperbaiki posisi duduk ku, sambil memperhatikan petugas pemakaman dan ahli keluarga yang mulai menutup liang kubur dengan tanah, akhirnya aku menemukan sumber langsung kejadian tadi subuh.

“Iya, tadi Subuh sebenarnya bukan jadwal Almarhum Pak Pardan yang jadi imam. Tapi karena iqamah sudah berkumandang, jamaah menunggu-nunggu imam yang belum juga datang. Sontak Pak Supardan maju kedepan Yang duluan sajalah dan memulai shalat subuh berjamaah. Beliau membaca surat al-fatihah dengan lantang dan lanjut membaca surat pendek. “SubhanaAllah” jamaah shaf terdepan bingung dan mengingatkan imam yang seharusnya rukuk setelah ayat pendek dibacakan, namun di sajadah imam terdepan Pak Pardan sudah terbujur kaku dalam keadaan bersujud. Selang beberapa menit seorang jamaah maju menggantikan posisi imam, dan meneruskan shalat. Tahiyat akhir dan salam, jamaah mesjid riuh diselimuti duka “Innalillahiwainailaihi rajiun” suasana haru pecah di awal fajar.”

“Innalillahiwainailaihi wajiun.” Seketika aku terdiam mendengar cerita teman disampingku, menatap sekeliling pemakaman. Satu persatu jamaah mulai meninggalkan pemakaman.

•••

Sepulang dari pemakaman, di rumah mama bercerita banyak tentang Almarhum Pak Supardan. Beliau dikenal baik oleh masyarakat Sungai Pakning, khususnya Gawar-gawar. Almarhum sangat ramah dengan tetangga, rekan kerja, dan seluruh warga. Sepanjang hayatnya Beliau selalu menyempatkan diri untuk melaksanakan shalat jamaah di mesjid. Papa juga menambahkan, Beliau juga selalu meluangkan waktu untuk menghadiri ta’ziyah ke rumah-rumah warga yang sedang berduka tanpa pernah memandang jabatan atau status sosial rumah yang iya datangi, selalu memimpin doa dengan hikmad. Pantas saja saat shalat jenazah tadi mesjid dipenuhi jamaah. Manager Pertamina, Wakil Camat Bukit Batu, PNS pemerintahan (masih dengan seragam kantornya), guru-guru (masih dengan seragam mengajarnya), pegawai Pertamina (masih dengan seragam lapangannya), Imam Mesjid Almukarramah, beberapa ustad, remaja, anak-anak, semuanya menyempatkan menshalatkan jenazah Pak Supardan. Sebelum dimakamkan tadi, pihak keluarga yang baru tiba dari luar kota meminta agar kain kafan dibuka sebentar untuk melihat wajah almarhum. Aku sempat melihat, wajahnya cerah dan tampak bugar.

“Shalat seseorang yang dilakukan dengan berjamaah dilipatgandakan dari shalat sendirian di rumah atau di pasar dengan 25 kali lipat. Yang demikian itu karena jika seseorang menyempurnakan wudhu, kemudian dia keluar menuju masjid untuk melakukan shalat. Tiada ia melangkahkan kaki selangkah melainkan terangkat baginya satu derajat dan dihapus dosanya satu dosa. Apabila ia shalat, malaikat akan senantiasa mendoakannya selama ia berada dalam di tempat shalatnya, “Ya Allah, ampunnilah dia. Ya Allah rahmatilah dia” Salah seorang diantara kalian tetap dianggap berada dalam shalat selama ia menanti shalat’’ (Hadits Riwayat Bukhari Muslim)

Aku tidak tau seberapa jauh langkah kaki yang beliau gunakan untuk melangkah ke mesjid, aku tidak pernah tau berapa tinggi derajat beliau diangkat setiap langkahnya, aku juga tidak tau seberapa banyak dosa beliau dihapuskan di setiap langkahnya. Mungkin aku tau, betapa mulianya meninggal dunia dalam keadaan bersujud ke hadapan Allah.

“Yang duluan sajalah” dan beliau benar-benar mendahului kita.

-Production Building PT. Polychem-

29 Juli 2016 [14:22]

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *