Skip to content

“Uang Panas”

Beberapa minggu ini aku intens komunikasi dengan Bu Linda IIEF (Indonesian International Educational Foundation). Bu Linda bilang kalau kantornya ditawari untuk menghandle acara seminar perkuliahan di Amerika dari agen Linden Educational Service. InsyaAllah acara akan diadakan tanggal 25 Februari 2017 di Sheratom Hotel. Nah, karena kantor IIEF cuma ada di jakarta jadinya Bu Linda minta tolong buat bantuin pra-acara termasuk perizinan, publikasi lalayeye.

Malam sebelumnya aku udah janjian dengan mbak Amel, marketing Sheraton Hotel, buat ketemuan jam 10 pagi besoknya. Ada beberapa berkas dari IIEF yang perlu dilengkapi termasuk pasport panitia acara dari Linden, karena melibatkan warga negara Asing. Sopir Uber dengan sigap memarkirkan mobil di lobby hotel.

“Sip, masih ada 1 menit dari appoinment” aku menunggu di lobby.

Sheraton hotel 10:13

Ada yang menarik dari misi hari ini. Sejak pertanggal 1 Januari 2017, biaya pengadaan acara Sheraton Hotel tidak lagi include biaya perizinan. Artinya, pihak hotel tidak bertanggung jawab terhadap legalitas acara. Oleh karena itu panita acara perlu mengurus perizinan ke Polsek dan Polres di daerah terkait. Honestly, mager sih mau ngurus gituan karena mesti berbelit-belit dan kudu bolak-balik ke kantor polisi. Nah, setelah chatting dengan mbak Amel beberapa hari muncul hasil lumayan “membantu” nih.

“Mba, untuk pengurusan izin keramaian apakah bisa dibantu melalui Sheraton?”

“Bisa mas, tapi ada biaya tambahan 800 ribu. Dan kita tidak bisa mengeluarkan invoice, kwitansi atau apapun mengenai hal ini…”

Hhhmm, aku coba memahami chat mbaknya

“…karena terkena peraturan pemerintah mengenai pungli. Tapi mas tau sendiri di Indonesia bagaimana, Polisi tetap harus kita kasih uang.”

Okay i got it.

Hasilnya, saat ini aku mengeluarkan berkas perizinan yang diperlukan. Kupastikan tak ada yang kurang. Lengkap. Dan aku memahami bodylanguage mbak nya “ini mbak untuk uang perizanan ke polisi, 800 ribu kan ya?”

“Iya mas” sambil menghitung kembali jumlah uang kertas yang aku sodorkan.

“Mbak bisa dibantu invoice atau kwitansi nya gak? Biar bisa aku report ke kantor (IIEF).”

“Wah, gak ada mas. Kita ga bisa keluarin invoice soalnya ini bukan dari prosedur kita. Tapi ya gimana, polisi pasti tetep minta.”

Ya aku paham, kalau sheraton mengeluarkan invoice berupa bayaran ke polisi tentu saja saat diaudit oleh pihak berwenang akan panjang ceritanya. Yang jelas buntutnya bukan polisi yang disalahkan, tapi Sheraton.

Aku segera menyudahi transaksi gelap tadi. Segera membuka handphone, order Uber.

Ya, ini lah negeri ku.

Dan aku juga pelaku?

Atau hanya perantara uang-uang biru?

WaAllahu’alam.

 

-Jl. Raya Lawang-Malang. 15 Februari 2017 [00:16]-

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *