Skip to content

Terimakasih Untuk Tamparan Keras, Pak Eko.

Touchdown~

IMG_4974

Uwwoooo…. bener bener biru… udah nggak tau lagi ini udah ketinggian berapa, yang aku tau ini udah beda benua, bener-bener udah keluar dari benua kelahiran panda, loh. haha… Jadi jangan berharap bisa nemu panda di sini, ga mungkin rasanya panda gendut gitu berenang sejauh ini, ga mungkin. See~ lihat noh, ga ada ijo ijo nya sama sekali di bawah sana, cuma ada gurun pasir, gersang,  ga mungkin ada bambu disini, mungkin ada cicak gurun yang lagi bertahan hidup dengan sisa-sisa air liurnya disana ahaha trus ada kucing gurun yang kelaparan, habislah sudah xixixi. Kalau ketemu koes ploes aku mau salaman trus bilang, bro-bro emang bener tanah kita tanah surga, kalau bisanya flight SUB-PKU dari atas bisa liatin gunung, sungai, pantai, laut, samudera, hijau sana sini… kalau di sini, dataaarr. ga ono opo-opo -_- “Lah sumber daya alam mereka apa kalau datar gini mas?” sambil clinuk clinuk ke bawah. “Mboh, mungkin banyak mineral di sana” arek Nganjuk ini juga kepo liat-liat ke bawah. (hayo siapa)

IMG_5003

Touchdown~ well, setelah selesai melewatiimigrasi yang mmm.. lumayan, periksa sana periksa sini, tanya ini tanya itu, scan sana scan sini, protektif banget kayak cewe :3 … akhirnya bisa menghirup udara bebas kota di ujung barat kelahiran kangguru. Di depan bandara sudah menunggu seorang bapak di van kecilnya. Awalnya aku ga nyadar kalau beliau yang bakalan pick us up dari bandara, matanya sipit berperawakan chinnese, tapi “Assalamualaikum pak Hamzah…” sapa halus dengar logat jawa, lumayan medok. Sreeett… “Bisanya -_-” ga habis pikir ternyata beliau orang indo. “Waalaikumsalam pak Eko” jabat tangan hangat sesama alumni, sederhana . Luar biasa, sama sekali belum pernah ketemu tapi atas nama gerigi biru ITS semua menjadi mengalir, indah. “Karim pak…”  Aku deketi bapaknya trus salaman. “Eko…” Sederhana, na   ma yang komersial untuk orang indonesia. Setelah loading barang-barang bawaan, van kecil itu segera meluncur di jalanan kota yang sungguh sangat teratur, dibandingkan keputih kalau jam 7. Beuuh, macetnya ampun. “kok iso se” Masih berusaha membiasakan mata yang terbiasa dengan keberatakan jalan raya, mata ku ga habis-habis melihat kiri kanan. Mungkin poin penting dari perubahan besar sudah dipegang masyarakat disini, iya habit. Sudah beberapa menit di jalanan, kami sudah berada di tempat tujuan. Sebuah rumah berukuran besar, sepertinya ada beberapa orang yang telah menunggu kami. Benar sekali, sambutan sederhana yang sangat hangat bagi kami. Berapa ibu bapak telah menunggu di dalam, singkat, tapi cukup untuk menunjukkan rasa memiliki sesama warga negara indonesia. Beberapa dari mereka justru bukan alumni ITS.

3R

Masih ngomongin pak eko, beliau belum lama di Perth, sebelumnya pak eko dan keluarga sudah lama di Melbourne. Abdurrasyid, anak pertama nya masih bersekolah di kelas 3 SMA. First impression waktu ketemu rasyid ya gitu, kirain lebih tua dari aku karena badannya jauh lebih gede haha ternyata engga ding. Yaiyalah jauh lebih gede, orang disini jajanan nya beef, lah aku? Pentol -_- Hard to say, mungkin karena udah lama di aussie si rasyid jadi susah ngomong indo, sering tuh kalau ngomong mesti gabung-gabung bahasa,logatnya udah ga kayak orang indo. Anak keduanya aku lupa ntah siapa namanya, yang jelas abdur juga trus huruf awalnya juga R tapi beneran lupa siapa namanya. Sebut saja second R ya, second R sekarang masih SMP, elementary school, jauh beda dengan abangnya second R lebih aktif. Cerita mama nya second R suka main sepakbola kalau lagi bareng temannya di Melbourne tapi abangnya lebih kalem selama di rumah kerjaannya main game online.Trus adik yang paling kecil namanya Abdurrahman, masih kecil banget, masih TK, playground. Nah, yang ini masih mendingan ngomong indonesia tapi ya gitu masih anak kecil jadi ya sama aja ga jelas ngomongnya hehe. Sebelum abroad pak eko pernah kerja di indonesia, justru karena kerja di indo dan kinerja nya memuaskan makanya pak eko direkomendasi untuk kerjadi di luar. Sekarang beliau di Caterpillar Perth, UWOW! Caterpillar bos, ampun dah… posisi nya juga sudah cukup membanggakan. Well, sekali lagi beliau alumni ITS, alumni tekpal malahan, iya jurusan tetangga tekkim yang sering dikunjungi buat shalat, maklum mushalla cowo tekkim di lantai 4 cukup tinggi buat nguji iman seseorang  buat shalat. Bukan itu juga sih alasan tepatnya, tapi karean arek tekkim itu  penjajah ulung ; parkir di TF, shalat di tekpal, jajan di TF xixixi Oke cukup. Kalau ga salah Pak Eko P37. Sebenarnya aku bukan mau cerita gimana caranya panda bisa berenang dari china sampe ke perth, tapi lebih ke cerita keluarga kecil ini. iya, entah kenapa menurutku keluarga ini keluarga kecil namun punya arti yang besar untuk perjalan singkat ku disini. Kau tau di keluarga kecil ini aku mengenal arti mensyukuri. Coba perhatikan, perbedaan umur first R ke Second R cukup ideal 3 tahunan. Jangan lupa masih ada R kecil yang masih sangat kecil hehe. Lah terus kenapa? aku ga tau sih benar apa engga nya, tapi yang jelas pasti ibunya juga pengen seorang putri, ya ngga? engga ya? hehe ga tau sih.

Bangunan Kotak

Aku ingat, pertama kali nyampe di rumah bapaknya kami langsung di kenalkan ke tempat yang paling spesial, tempat yang menurutku langka disini, tempat yang membuat orang disini mikir dua kali, tiga kali mungkin untuk mengunjunginya, iya… selesai letakin barang-barang dikamar pak eko mengajak kami ke tempat itu, bangunan kecil di tepi keramaian, bangunan yang dikunjungi hanya beberapa waktu tertentu, setelah itu sunyi. Van terpakir rapi ditepi bangunan ini. “Wudhu nya disana ya” ujar pak Eko. “Hah, ini mesjid?” gumamku. Rasanya tak berlebihan kalau tadi ku bilang ini tempat langka dan spesial disini. Bangunan ini sama sekali tak menunjukkan rupa fungsinya, tak seperti di indonesia, tak ada design bangunan dengan atap bulat dengan puncak bulan bintang. Oh ya, jangan harap kau terbangun subuh karena azan, mimpi kawan, disini tak ada azan yang berkumandang, ada, tapi tidak mengangkasa. Dan kau tau? Pak Eko pernah bercerita, di kantor-kantor tidak menyediakan tempat shalat atau mushalla, jadi biasanya pekerja muslim harus menghabiskan waktu istirahat siangnya untuk berkendara ke mesjid terdekat, kau tau kan maksud terdekat, ya sangat jauh. Tak heran jika di mesjid sering aku lihat jabat tangan antara satu sama lain lebih erat dibandingkan di Indonesia. Entahlah, aku tertegun, memang benar ternyata semua menjadi lebih berarti saat waktu kebersamaan perlahan-lahan mulai berkurang. Seusai shalat maghrib, aku menuju mobil untuk kembali ke rumah. Sudah gelap. Kreeeek… pintu mesjid ku buka dan… sepertinya ini perbedaan pertama indo dan aussie. Dingin, sangat dingin. Iklim Perth saat ini memasuki tahap transisi dari kemarau ke musim penghujan. Aku tak peduli dengan itu, hanya saja membayangkan betapa bulatnya tekad saudara-saudara muslim untuk ke mesjid, ini maghrib lo, isya nanti suhu bakal jauh menurun dan kau tau?  Selama disini Pak Eko seperti mengajak kami ke mesjid, selalu.

Satu Untuk Tujuh Kebaikan

IMG_5586

Saat kembali di rumah, buk eko (sumpah aku lupa juga siapa nama ibunya, maapkeun hehe) sedang menata meja makan. Haha ini yang aku tunggu-tunggu, maklum flight antar benua bikin aku lapar *songong betul dul duuull* Awalnya aku nganggap biasalah tamu dijamu makanan, tamu jauh juga kan. Bahkan aku mikirnya kami disini cuma bentar doang, eh ternyata seminggu kedepan bakalan tinggal disini. Oh ya, kami, aku lupa jelasin “kami” itu maksudku; aku, Mas Irwan, Mas Pras, Bang Rasyid, Mbak Ana, dan Mbak Adien. Oh ya, Pak Hamzah tinggal di tempat teman lamanya, jadi ga ikutan di rumah ini. Watdeee.. jadi selama seminggu kedepan keluarga ini yang bakal nyediain makan minum kami. Pernah juga kan makan di luar ya harganya kira kira segini: Nasi + Ayam 8AUD (dolar australia) trus minum nya 1AUD, berarti sekali makan 9AUD. Kita berenam dan anggap aja minimal makan dua kali sehari berarti 9*2*6= 108 AUD. Sip, itu satu hari, kami dirumah kira-kira 7 hari berarti 108*7= 756AUD. Yang terakhir yang perlu diketahui, waktu itu 1AUD hampir Rp. 11.000,- Sek, kalkulator… 756*11.000= Rp. 8.415.000,- ngeeheeee~ ingat ya itu asumsi makannya dua kali sehari, padahal bu eko selalu nyediain sarapan, makan siang, dan makan malam. Malahan sering bikin jajanan gitu hehe… Coba kau perhatikan kawan, sebelumnya kami sama sekali tak pernah berpapasan. Kami juga tak pernah berkenalan. Apalagi saling berkorban, sama sekali belum pernah. Tapi mungkin Pak Eko pernah dengar kisah 8 dirham, makanya gampang aja pak Eko ngasih ini ngasih itu ke kami. Karena minimal income yang pak Eko dapet nantinya kira-kira mmm….. 7 kali dari pengeluarannya… jrengjreeengg 7*Rp. 8.415.000,- = …….. hitung sendiri lah, sekali lagi itu minimal kawan.  Kalian belum tau kisah 8 dirham? Ckckck ini nih… kisahnya.. aku baru tau juga sih kemarin habis kepo kepo blog nya zizi: udah klik aja

No, I’m still sleepy mom

IMG_5592

Pagi itu, pintu kamar dibuka. Belum pagi, tepatnya subuh. Pak Eko sudah dari tadi terjaga, suhu dingin sama sekali tak membuat Pak Eko memperpanjang tidurnya. “Ayo mas bangun, kita subuh bareng” singkat namun sangat tegas. Kami yang masih jet lag (ehm) harus merelakan tidur pulas yang “tertunda”. Setelah wudhu kami bergegas turun ke bawah, ya… di ruangan shalat telah menunggu Pak Eko sekeluarga, iya termasuk R kecil. Ruang kecil ini terdapat buku-buku,  bisa ku bilang pustaka mini pribadi. Banyak sekali buku disini, berbagai buku. Di dinding depannya ada sebuah proyektor, bioskop keluarga tepatnya, tapi jangan salah ruangan ini tak jauh kalah dengan XXI didukung penuh dengan soundsytem yang mmm… dubdubdubb memuaskan. Pak Eko mengimami shalat subuh kali ini, rakaat pertama dengan surat yang cukup panjang. “Mungkin bapak ini suka menghafal Al-quran” tebak ku, hanya sebuah tebakan. Shalat subuh kali ini berlangsung sangat khusyuk, hanya sesekali R kecil bermain-main di antara shalat. Usai shalat aku kira akan sama seperti shalat subuh biasa ku. “Kak, ayo sini” bu Eko memanggil Abdurrasyid yang buru-buru keluar dari ruangan sesuai shalat subuh. “No, I’m still sleepy mom” teriakan kecil dari lantai atas. Bu eko hanya menggelengkan kepala dan meminta second R ke atas untuk memanggil kakaknya. “Mom, he don’t want. Udah ku bilangin” teriakan kecil sekali lagi dari atas. “Rasyiiidd…” halus namun sangat tegas. “Okay okaaay…”. Aku hanya melirik kecil sambil memperhatikan apa yang barusan terjadi. Rasyid duduk di depan Ibunya, tak sama sekali terlintas apa yang bakalan iya lakukan. Keduanya memegang Al-quran. Hanya saja rasyid tidak membukanya. Di detik ini aku sekali lagi ditampar, keras. Dengan suara yang merdu dan alunan yang mengalir Rasyid menyetor hafalan alquran ke ibunya. Sesekali bu eko membenarkan bacaan Rasyid. Pak Eko yang dari tadi membaca alquran juga sesekali nyeletuk membenarkan. SubhanaAllah, ini momen langka.

Sudah terlalu malam mungkin aku menulis cerita ini. Namun tak salah sepertinya aku berbagi sedikit cerita bangunan langka disana. Memang kita adalah kita sendiri. Kamu juga bukan orang lain, tetap kamu. Ku kira tak ada salahnya mengetahui perjuangan di tepi negeri sana, iya perjuangan mereka yang berada di kondisi minoritas. Saat kau tak lagi menguasai daerah, dan jumlah mu sangat sedikit, kau akan mengerti arti perjuangan.

Tak seperti kita saat ini, aku juga bagian dari kita. Kita yang masih lalai.  Sudah terlalu malam mungkin aku menulis cerita ini. Namun tak salah sepertinya aku berbagi sedikit cerita alangkahringan tangan saudara kita disana. Memang kita adalah kita sendiri. Kamu juga bukan orang lain, tetap kamu. Ku kira tak ada salahnya mengetahui indahnya arti berbagi dan keyakinan akan apa yang kita miliki hanyalah sebuah titipan.

Tak seperti kita saat ini, aku juga bagian dari kita. Kita yang masih kufur. Sudah terlalu malam mungkin aku menulis cerita ini. Namun tak salah sepertinya aku berbagi sedikit cerita momen langka disana. Memang kita adalah kita sendiri. Kamu juga bukan orang lain, tetap kamu. Ku kira tak ada salahnya mengetahui bahwa hal baik dibangun oleh kebiasaan baik. Tak seperti kita saat ini, aku juga bagian dari kita. Kita yang masih belum baik.

IMG_5889

 

Terimakasih untuk tamparan keras, Pak Eko.

Published inMy Blog

One Comment

  1. addien addien

    The 2nd R is abdurrafi
    Mrs.Eko is tante ninil

    Love this note, writing is the best way before age takes all the sweet memory about perth.

    Keep struggle, so you can call at another country to learn something about this life, my pray is always to you, brother and all the spektronics member

    Wish me luck for comingback to perth someday

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *