Skip to content

Single Traveling

Dari semua perjalanan yang aku pernah alami, single traveling menjadi perjalanan favorit ku sejauh ini. Dan juga hari ini, seperti selebrasi perayaan usai-sudah-semester-7 dalam versi maya, antara merayakan atau melarikan diri dari kebosanan perkuliahan yang tak berujung i take a flight to Jakarta. Kok bosan? entahlah aku pun bingung mendefinisikan sebenarnya aku itu semester 7 kuliah atau ngapain sih. Di kelas mungkin menyerap maksimal 17-21% dari apa yang disampaikan dosen, sisa waktu di kelas aku habiskan dengan ngobrol dengan teman, mainin handphone and ofcourse my daily-favorite-best activity at class: tidur.

Sisanya aku sibuk di luar mengurusi hal-hal yang jika dlihat dari satu sudut pandang mungkin sangat kurang relevan dengan konteks aku sebagai seorang mahasiswa tahun akhir yang seharusnya fokus menyelesaikan tugas akhir dan mempersiapkan diri ke dunia kerja, siang hari dihabiskan dengan lari-lari kecil memutari ITS membantu (katanya sih) proyek dosen, siang menuju sore setiap rabu kamis setelah meeting dengan dosen proyek lari cabut ke lab Kimia Organik (KO) untuk (katanya sih) mengasistensi praktikan KO, malam menjelang hampir tengah malam lanjut tes awal praktikan KO. Sejujurnya aku gak pernah lagi yang namanya membuka buku pelajaran -bahkan di kelaspun- selama semester 7 ini. Tapi aku yakin sih, saat aku mengeluhkan seluruh kegiatan yang padahal diawal aku ingin-inginkan, disaat itu juga banyak orang lain yang diam-diam sangat mengharapkan diposisi ku itu. Punya pengalaman lebih dibandingkan teman lainnya. Wait, terus cerita single traveling nya mana bos? zzz

Oke kita lanjutkan.

Seperti biasa, i never prepare for any flight. Kocar kacir baru balik dari lab jam 2an habis nemenin Wuwuh sama Ilham ke robotika buat nanyain proximate composition and moisture content analysis, biasa, (katanya sih) proyek. Penyakit lama kambuh, nyantai. Habis kebut-kebutan dari kampus malah nyampe di kamar males-males padahal belum packing sama sekali. Ya siklusnya ga jauhjauh dari: buka pintu kamar, nyalain lampu, letakin tas, balik kanan lirik kasur, duuarr… hilang satu jam siasia.

Baru bener bener (ini beneran) kocar kacir liat jam udah jam 3 dan belum packing sama sekali. Woi aku kudu ke bandara sebelum jam 4!

Sebenarnya yang biking kocar kacir si Yunteng. Iya, udah ngertilah itu nama dari china. Benda ini yang bikin aku molor setengah jam lebih di kontrakan mainin dia sampe kelupaan charger handphone (yang mahalnya beda tipis sama tiket pesawat) dan aku harus muter balik jemput charger padahal udah lewat Merr. Tau gak Yunteng? Googling noh sana haha. Nyesel lo. Beruntung banget gak jadi ke bandara pake bluebird, karena Kakap udah ngotot dari kemarin mau nganterin yowes sekarepmu Kap. Alhasil taxi gadungan bisa ngebut dari ITS ke bandara cuma 30-40 menit, biasanya butuh 60 menit dengan kondisi rush hours sore hari jam pulang kerja. Wew! Aku udah pasrah kehilangan tiket cuma gara-gara yunteng dan charger hp.

Well, untuk perjalanan kali ini memang aku sengajakan “sedikit” istimewa, aku memilih maskapai terbaik biar bisa nikmati single traveling kali ini.  Dan nyatanya nyegerin. Nah lo, sprite. Nyatanya nyampe di bandara sudah 40 menit sebelum boarding, alhamdulillah gak salah milih maskapai. Kalaulah aku ambil si singa terbang, udah fix hangus tiket ku. Karena udah mepet mau boarding dan di check in line masih panjang banget antrian nya. Intuisi ku, ciiieee intuisi~ opo seh. Intuisiku langsung mengarahkan buat nanya ke desk help Garuda Indonesia.

“Sore mbak”

“Iya sore mas”

“Mbak, ini aku flight jam 6 belum check in tapi antriannya masih panjang. Ada self check in nya gak ya?”

“Oh gak ada mas, coba ke premium chek in aja ya” mbaknya senyum, biasa aja sih.

Yohoooo~Akhirnya aku bisa check in dan gak perlu ngantri panjang #terimakasihpremiumcheckin

Aku sudah terbiasa di bandara seorang diri, justru kalau aku boleh memilih aku lebih suka terbang sendiri. Berjalan menuju waiting room sambil menenteng tas ransel, tak banyak bicara, tapi aku selalu menikmati suasana ini. Ditengah hiruk pikuk lalulalang ribuan manusia, diam memperhatikan sekitar sepertinya menjadi momen terbaik ku. Kadang berbicara dengan diri sendiri mengenai aku dan diriku adalah prioritas utama. Ya, people are social creature, i need to talk to my self (too).

Terminal 2 Juanda hari ini cukup padat, mungkin karena banyak orang yang memilih pulang lebih awal untuk liburan natal dan tahun baru. Sesekali aku memperhatikan kumpulan keluarga yang asyik bercerita sambil menunggu keberangkatan, tak jarang aku juga melihat spesiesku: lonely passenger duduk di pojok waiting room, bengong. Eits, jangan salah. Mungkin saja ke-bengong-an doi jauh lebih bahagia dari keluarga tadi: menikmati kesendirian. Aku memilih duduk menghadap kaca luar bandara. Dari sini aku bisa melihat kesibukan petugas bandara mempersiapkan pesawat yang akan mengangkasa. Aku menjulurkan kaki di atas ransel berat yang sedari tadi aku jinjing. Menikmati senja. Dua tas ransel hari ini penuh dengan bawaan dan pesanan mama. Iya, mama setiap aku pulang pasti ngingetin buat bawain pesenannya.

“Dek, baju kotor jangan lupa dibawa ya”

Zzzz

I got 61B seat. Bukan posisi menarik untuk perjalanan kali ini. Di tengah. Gak bisa lihat keluar, ga bisa leluasa selonjoran kaki juga. Sialnya aku baru nyadar waktu mau pulang kalau ternyata Garuda Indonesia bisa milih tempat duduk via online check in. Hmm. Ceritanya pesawat yang ini dari hasil pengamatan ku ya ga terlalu baru sih, justru terlihat “pro” dengan kondisi furniture yang mungkin kalau aku gak salah prediksi sekitar awal tahun 2000an. Soalnya bener bener nuansa lama dan juga sudah banyak gores gores perjuangan sepanjang kabin.

Kiri kanan ku juga orang yang gak asyik di ajak ngobrol sepertinya. Udah dilemparin hi-smile tapi yo respon ya biasa aja, cuek. Jadi aku memutuskan untuk menikmati flight ini dengan tidur sebentar setelah takeoff. Well tapi ternyata aku cukup lelah untuk “”tidur sebentar” dan kebangun saat mbak pramugari nawati snack and beverages.

“Susu aja mbak”

“Pake es apa enggak mas?”

“Gausah mbak”

Mbak nya lihai bgt serving walaupun kondisi pesawat kegoncang turbulensi.

“Makasi ya mbak” It sounds simple tapi ini sangat berharga untuk mbak nya.

There are alot of people who work all day due to SOP to smile and joy every persons they served. but gak banyak yang bisa dengan ikhlas berterimakasih atau sekedar membalas dengan senyuman saja. Who knows side by side of their smile mungkin mereka tengah risau dan cemas dengan kabar keluarga di kota yang terpisah jauh disana, atau menahan lelah seharian berdiri menyambut satu persatu tamu penerbangan. Pls guys, be nice. We don’t know which hands will help us nextday. Maybe your smile will shake God’s hand to save you.

Whooopss the final call already announced.

See yaaa (:

-Terminal 3 Ultimate Airport of Soetta. 26 Desember 2016 [19:52]-

Published inMy Blog

2 Comments

  1. Kartika Kartika

    aku gak ngotot nganter

    • bdulkarim bdulkarim

      Maaf siapa ya? 😀 wkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *