Skip to content

Oh man, they call me back!

Ceritanya tadi sore rame adek-adek SMA yang ikutan NOPEC (National Olympiad of Chemical Engineering)  lab tour ke beberapa laboratorium Teknik Kimia. Memang kegiatan NOPEC sudah lama menjadi annual event HIMATEKK FTI ITS untuk mempromosikan Departemen Teknik Kimia pada lingkungan sekolah menengah atas dan mengasah kemampuan siswa khususnya dibidang ke-teknikkimia-an.

Ada yang menarik waktu aku menjelaskan overall tentang lab biokim ke adik-adiknya. Pertama, sejujurnya aku sudah lama tidak bersentuhan banyak dengan manusia-manusia non-perguruan tinggi (selain mahasiswa, dosen, birokrasi, karyawan, pedagang warung makan, bapak pentol, apapunlah yang sehari-hari aku lihat). Jadi saat melihat adik-adik itu datang dengan seragam sekolahan, ada romance baru dipenglihatan dan nalar ku. Bukan baru, tua bahkan, tapi aku rindu.

Cukup lama aku mendefinisikannya, tapi mungkin ini yang dinamakan cinta. Gak deng. Mungkin ini yang dinamakan aku pernah diposisi mereka. Datang berkompetisi dengan semangat menggebu-gebu, tak punya beban tak pernah terbebani.

Sejak kecil aku mulai bisa dengan berkompetisi, tapi alhamdulillah setiap jenjangnya selalu bervariasi. Waktu SMP zaman jahilliyah itu, aku lebih sering meninggalkan kelas untuk mewakilli kecamatan ku mengikuti Pekan Olahraga Nasional Tingkat Kabupaten. Iya tingkat kabupaten, karena tim ku selalu kalah atau paling banter bawa pulang piala juara II. Olahraga yang aku ikuti pun beragam, di cabang sepaktakraw aku dipercayai diposisi apit kanan. Karena tekong tim ku dominan kaki kanan, aku lah yang bertugas melemparkan bola untuk melakukan service. Aku ingat bagaimana pekaknya telinga setiap diteriak pelatih karena salah melempar. “Apo pulak aku yang disalahkan, budak tu yang tak bisa nekong” gumamku tiap kali disuruh push up sebagai hukuman. Lain pula ceritanya waktu dipercayai menjadi striker tim futsal kecamatan, semakin jarang aku masuk kelas madrasah karena harus mengikuti latihan disore hari. Ini nih juga yang bikin aku gosong sampe sekarang *alesan* karena mulai latihan dari jam 2 siang sampe 5 sore, outdoor! Maklum waktu zaman ku SMP di Pakning belum kenal lapangan indoor wkwk You know what? karena kebiasaan latihan di lapangan rumput dan waktu tanding di kabupaten lapangan ternyata indoor dan lantainya rumput plastik dan ada potongan ban dalam, paha atas ku robek gara-gara tackling lawan serasa di rumput beneran. Membekas sampe sekarang lol.

Zaman SMA beda lagi. Malah sama sekali gak mau nyentuh yang namanya olahraga. Mungkin karena kehidupan asrama yang sudah berat jadi males mau ngabisin buat nendang-nendang bola, mending disimpan buat nyuci baju; lari pagi keliling mensa; push up telat ke rumah makan; the most important -> sprint subuh asrama-mesjid biar gak masbuk.  😆 Tiga tahun SMA menurutku tak jauh jauh dengan istilah lomba, tapi ya bedanya lebih ke akademik dan seni. Seni? Wew kadang aku ketawa sendiri ngingat aku dulu bisa baca puisi, juara pula wkwk. Iya, kalau di SMA aku gak nyentuh yang namanya olahraga tapi lebih ke olimpiade kimia dan musikalisasi puisi (sek, masih berat aku ngetik yang terakhir ini wkwk kocak) Yaudah muspus deh biar gak ada kata puisi nya wkwk. SMA Plus memang terkenal dengan tim olimpiade yang handal di setiap mata pelajarannya. Entah itu Biologi, Matematika, Fisika, Kimia, Geologi, Ekonomi, Komputer dan macam-macam lainnya selalu mengirim delegasi sampai tingkat nasional bahkan membawa pulang medali internasional. Sebagai anak kampung yang juga pengen membanggakan orangtuanya di rumah dan menghapuskan dosa selama SMP bermain sepanjang hari, aku memutuskan untuk join di Tim Olimpiade Kimia. Dari kelas 10 lumayan banyak kompetisi yang aku ikuti, yang paling bahagia itu waktu bisa membawa pulang piala umum bergilir. Mungkin menang secara individual itu gampang ya, tapi untuk juara umum setiap cabang lomba harus maksimal dan dipegang oleh teman-teman yang berbeda. Ini nih gimana memastikan komposisi tim kimia SMA Plus biar bisa dominan di tiap cabang. Alhamdulillah bisa bawa pulang piala yang pernah dibisikin Bu Atik waktu sore berkunjung di rumah beliau. Aku cuma bisa bantu jadi tim hore aja hehe.

Sebenarnya aku males mau bahas ini tapi ya gimana, sejarah itu memang harus dikenang wkwk Jadi ceritanya dulu itu entah kenapa aku pun lupa kok bisa ikutan muspus. Aku bukan anak seni dan bukan juga osis bidang seni atau apa punlah itu namanya. Tapi tiba tiba bisa segila itu membaca puisi. Dan hebatnya lagi aku bisa join dengan tim muspus yang luar biasa fantastis. Dari composer music yang handal, backing vocal terbaik, sampai pemain gambus keroco yang pernah aku kenal. Hasilnya kita bisa bawa pulang gelar juara untuk SMA Plus Pronvinsi Riau azeekk ditutup dengan penampilan terakhir yang demi apa kok bisa se-anu ituu lol. Udah deh nonton aja, males mau jelasin gimana absurd-nya  wkwk

Dari semua perjalanan zaman jahiliyah tadi justru aku banyak belajar. Waktu kecil, aku sama sekali tak pernah peduli dengan apa yang dikatakan orang. Selalu fokus dengan apa yang aku inginkan, dan sama sekali tak memikirkan bagaimana jika kalah bagaimana jika gagal bagaimana kalau ini itu dan segala hal yang saat ini terlalu banyak aku pikirkan. Bukankah dulu saat itu aku selalu berlari di terik panas lapangan pertamina tanpa peduli kulit yang semakin hitam? Bukankah dulu saat itu aku tak pernah putus asa berulang kali push up karena kebodohan tekong tim ku? Bukankah aku selalu bisa girang gembira pulang maghrib dengan baju penuh lumpur sambil mendengarkan mama ngomel tak karuan? Bukankah aku tak pernah sedih saat gagal menyelesaikan soal-soal kimia yang itu-itu melulu dan selalu salah melulu? “Sebodohnya bodohnya aku pasti ada yang lebih bodoh” Gumamku sambil keluar ruang ujian. Dan, apakah dulu aku belum punya urat malu berteriak bak keserupan? Tapi aku tau itulah aku!

Lalu kenapa saat ini terlalu sulit untuk membuat sebuah keputusan?

Kenapa terlalu banyak ku pikirkan apa yang dikatakan orang, peduli setan!

Dan sejak kapan aku belajar menebak pahitnya kegagalan, sedang aku tak lagi pernah berjuang.

 

-Kasur. 10 Februari 2017 [00:54]-

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *