Skip to content

Melukislah

Entah hari ini esok atau lusa, hari hari yang sudah kau lalui akan menjadi saksi dan selalu siap membela masa depan mu. Tak perlu lah kau sibuk bertanya-tanya akan apa yang disimpan untukmu esok, cukup warnai hari ini dengan warna yang terbaikmu. Berbagi cerahnya kuning pada senja yang kelam tidak sulit bukan? Yakin saja jingga yang muncul perlahan, bukan lagi kelam. Tapi aku bukanlah pemain tinta yang baik, selalu saja tertumpah sembarang warna di kanvas baru ku. Kadang ungu, kelabu, bahkan tak sengaja hitam tumpah begitu saja.

Kata mereka, jangan pernah kau simpan satu lembar pun oretan hidupmu menjadi usang tak bertuan! Bukalah! Kenanglah kembali! Tentu pelangi yang kau lukis perlahan mengobati lelahmu yang sedang berjuang. “Lalu bagaimana dengan hujan yang tak sadar ku garisi?” Sentuh lah kembali rinai itu, diam dan rasakan. Bukankah indah saat bumi dan langit berbisik bersama dalam rintik-rintik haru. Siapa tau mereka bercerita tentangmu, bercerita kalau tuhan memang menguji mu hari itu dan diam diam mengganti yang lebih indah esok pagi. Bukankah Allah sebaik-baiknya Pelukis?

Oh ya, pelukis tetaplah pelukis. Dan akan selalu ada banyak pemula yang tak sengaja mengores tinta abu. Kelam, bukan? Berbagilah, ceritakan pada mereka agar tak semakin banyak yang memendam kanvas abu penuh debu. Kalau pun kau urungkan niat itu, setidaknya pajangkanlah lukisan pelangi tadi di teras rumah, siapa tau mengobati hati para tamu.

Untukmu, melukislah (:

-Meja Belajar. 13 Februari 2017 [23:08]-

 

Published inMy Blog

3 Comments

  1. - -

    siap, laksanakan! (:

  2. Aulia K Aulia K

    Untukku? :”3

    • bdulkarim bdulkarim

      Sehat lik? Trampolin dulu sana jiahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *