Skip to content

Melbourne Night Escape!

Hai hai, udah lama ga ngepost nih.  Ceritanya lagi sibuk dengan urusan Spektronics dan SEK53 trus pelajaran dikelas yang entahlah terlalu mistik untuk dipelajari. Apalagi dengan Thermo yang hanya karena salah masukin nilai R dan…..áhsyudaaah laaaah… Yep, sengaja ambil waktu malam buat nulis, setelah ke base (yang sekarang kata Agung namanya Lab) Spektronics. Melihat anak anak nyoba konsep baru dan menurutku mereka keren punya ide ide kreatif hehe. Okay let me bring you to my unpredictable journey: Melbourne Night Escape!

Yesh, i and my team berkesempatan ikutan lomba Chem-E-Car di Melbourne dalam rangka APPChE (Asian Pasific Confederation of Chemical Engineering) ini acara nyangkruk nya engineer teknik kimia se-Asia Pasifik yang pasti bukan di warkop Keputih hehe. Di salah satu sub event nya ada lomba Chem-E-Car yang memediasi mahasiswa dalam berkarya diranah chemical engineering untuk mendesign prototype mobil yang digerakkan oleh energi yang berasal dari reaksi kimia. Here we go!

map

Berbeda setahun yang lalu, kali ini flight menuju benua kangguru dilakukan malam hari, dini hari malahan. Biasa, pasti nyari tiket murah. Flight pukul 00.15 WITA, Asia X-flight take off dari bandara Ngurah Rai, Bali. Udah ga bisa ngapa-ngapain di pesawat selain tidur dan tidur. Seminggu terakhir pol-pollan nyiapin keperluan keberangkatan. Padahal sudah dirange jauh-jauh hari untuk segala keperluan tapi tetap aja injury time baru kelar semuanya. Hibernasi berakhir waktu jidat ku mulai kerasa perih kebentur dengan kursi penumpang di depan. Oh ya, aku tau kenapa kita dapat tiket yang lumayan murah. karenaaaaa….. kita duduk di kursi yang paling belakang! paliiiinnngg belakaaaaang… Jadi dari urutan depan itu isinya bule semua, dibaris belakang muka-muka indo -,- bodo amat wis yang penting nyampe.

Yepyeep, touchdown! nyampe di Melbourne International Airport sekitar jam 7 waktu setempat. Alhamdulillah lagi-lagi hubungan alumni ITS yang sangat erat memudahkan seluruh kegiatan kami di Melbourne. Pagi itu ternyata sudah 2 jam pak Dicky menunggu kedatangan Spektronics. Sebenarnya flight kita on time tapi yang lama itu dibagian imigrasi nya, antriannyaa puaaaannjjjaaaanggg, beda banget waktu di Perth, mungkin karena Melbourne big city yang rame dikunjungi banyak orang. Oh ya, Pak Dicky adalah adik ipar nya Pak Ifan yang menjadi pendamping kami selama event Chem-E-Car APCChE 2015 kali ini. Berbeda dengan tahun lalu yang pendamping biasanya dari dosen pembimbing, tahun ini Pak Ifan selaku Kabiro Pendidikan dan Riset Ikatan Keluarga Orangtua Mahasiswa (IKOMA) ITS yang mendamping tim Spektronics. Berkat beliau kami dihubungkan dengan Pak Dicky dan Ibu Dina yang membantu kami dalam segala hal, baik penginapan, makan, minum, nyuci baju maupun transportasi selama di Melbourne.

Cuaca di Melbourne sedang fluktuatif, maklum lagi musim semi, temperatur bisa berubah dengan ekstrim dalam jangka waktu yang singkat. Jadi temperatur bisa berubah-ubah dari 30ºC sampe dengan 10ºC, ibaratnya dalam waktu yang sama kamu lagi panas-panasan di Surabaya langsung teleport ke Tangkuban Perahu hehe. Kota Melbourne dikenal sebagai “Ibukota Budaya Australia” karena merupakan pusat seni, perdagangan, pendidikan, hiburan, olahraga, dan pariwisata. Tak heran waktu di bandara tadi antrian keimigrasian berjejer panjang pendatang lokal maupun internasional untuk mengunjungi kota terpadat di Autralia dengan julukan “Batmania Bearbrass” ini. Fasilitas publik yang lengkap, pelayanan kesehatan yang mutakhir, sistem keamanan yang mapan, serta banyaknya lokasi wisata yang menarik membuat Melbourne menjadi kota pertama yang mendapatkan gelar Kota Paling Layak Huni di Dunia selama 5 tahun berturut-turut sejak 2011.

Setelah perjalanan kurang lebih 30-45 menit dari bandara, kami sampai di rumah Bu Dina. Kedatangan kami awalnya disambut oleh Bu Dina dan putra pertamanya, Ananda. “Alhamdulillah nyampe juga ya kalian” senyum was was bercampur canda dari Bu Dina. Wajar aja beliau udah pesimis setelah H-3 dapat kabar kalau email pengurusan visa yang kami kirim ke Australian Embassy itu gagal terkirim gara-gara over attachment capacity -_____- sudah sudah, lupakan tragedi itu. “Pak Joko masih di luar, ke pameran animal tadi sama Excel. Monggo mas mbak monggo masuk.” Sip, alhamdulillah lagi-lagi alumni ITS memberi banyak kontribusi untuk kampus yang dulunya membesarkan mereka. Bu Dina salah satu alumni Teknik Penyehatan ITS. Penyehatan? ahaha aku juga awalnya dengar nama jurusan itu yo aneh, kirain sejenis kedokteran atau perawatan gitu, tapi ternyata Teknik Penyehatan nama jurusan yang sekarang dikenal Teknik Lingkungan ITS. Cerita punya cerita ternyata hari ini hari ulang tahun nya Pak Joko, jadi waktu kita nyampe Ibu Dina lagi nyiapin surprise untuk suami tercinta, sederhana tapi sangat membahagiakan. Bu Dina udah nyiapin kue ulang tahun dan u know what? She cooked the holly indonesia food, Bakso! Yessh, cocok banget buat cuaca yang adem-adem gini, tentunya mereka juga sudah kangen makan bakso karena biasanya sehari-hari makan roti jarang banget nyentuh nasi. Yep, dibalik romantisnya surprise ulang tahun Pak Joko ternyata belum ada apa-apa nya kalau dibandingkan dengan kisah cinta Bu Dina dan Pak Joko. Jadi ceritanya beliau berdua sama-sama mahasiswa jurusan Teknik Penyehatan, ketemu nya waktu ngerjain Tugas Akhir (TA). Ah, kebayanglah gimana indahnya masa-masa itu, mengerjakan TA dengan lirikan mata saling pandang dan senyuman tersimpul malu, dibawah pohon sakura yang menggugurkan daun, dan ditemani semilir angin mamiri hehe. Ga sesenitron itu juga sih. Yuhuuu, yang pake kaca mata itu namanya Ananda, seumuran dengan kita. He’s also the next engineer, electrical engineer exactly. Sekarang lagi kuliah di Electrical and Electronics Department RMIT. Orangnya selalu happy dan akan selalu happy. Terakhir… itu ada yang nempel diantara Pak Joko dan Bu Dina. Excel! (gini kali ya tulisan namanya) si kecil, jauh banget sih umurnya kalau dibandingkan sama masnya.

Acara ulang tahun pak Jokowi berlangsung rame karena tentangga dan teman-teman Indonesia juga datang. Hari udah mulai sore, dan baru nyadar kalau kita belum check lokasi conference buat besok. Jadi dari panitia APCChE mewajibkan tiap tim ikut serta dalam conference mengenai dunia keteknik kimiaan. Bukan hanya dari mahasiswa saja namu conference itu diikuti oleh ratusan dosen, peneliti, serta engineer-engineer dari berbagai negara. So, biar Ratri dan Ryan ga tersesat besok paginya, kita harus menjelajahi Melbourne – setidaknya menuju ke Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC) dulu deh – sore ini. Gogogogo!!

Ini pasukan kita: Ratri, Wisnu, Rama, Agung (alay kan pose nya), Nanda, dan Ryan. Masih nungguin bis, tapi sepertinya kita terlambat dan harus nungguin lebih lama. Rumah Bu Dina terletak di daerah Hoppers Crossing, sekitasr 26,5 KM dari Melbourne city. Untuk bisa nyampe kesana bisa menggunakan public transport, pake bis menuju Hoppers Crossing Train Station trus menuju ke city bisa turun di Flinders Street, dan buat ke MECC bisa pake tram. Sistem transportasi yang mutakhir menjadi salah satu alasan kenapa gelar Kota Layak Hidup mampu disandang Melbourne selama 5 kali berturut-turut. Untuk public transport pemerintah mengusung Public Transport Victoria yang menggunakan sistem Charge Cards yang berupa token isi ulang, yang dikenal dengan Myki. Sistem ini memudahkan masyarakat baik dalam hal pembayaran, jadwal, dan sinergisitas dari tiap-tiap alat transportasi. Public transport mencakup layanan bis, kereta, dan tram yang ada di Victoria, termasuk Melbourne. Salah satu kemudahannya adalah pemerintah membatasi pembayaran maksimal $8 perhari, jadi kalau udah make public transport dan myki nya udah habis 8 AUD, gratis pake public transport mau kemana pun seharian. Enak kan? Fyi dari Hoppers Crossing ke City naik train sekitar 1.4 AUD.

Karena kami terlambat sampai di halte bis tadi kami ketinggalan bis, bisa sih nungguin bis selanjunya tapi khawatir ga nutut waktu buat naik train yang sharusnya tadi, karena schedule dari puclic transport memang didesain saling berhubungan. Jadi penumpang yang baru turun dari bis bisa langsung melanjutkan perjalanan dengan train tanpa harus menunggu lama. So, nanda called his father and akhirnya kita dianter pak Joko sampe train station, kenapa ga dari awal aja pake mobil -,- Aku baru saja keluar dari mobil Pak Joko dan pamitan, tapi situasi berubah dengan cepat. Sulit untuk dipahami, Nanda dengan spontan berlari, tak sempat berbicara sepatah katapun. “Apa yang terjadi?” tak perlu jawaban aku sontak berlari, melihat sekelilingku orang-orang juga berlarian, saling pandang. Aku mendengar suara memenuhi train station ting tiing tiiingg tiiiing…… Dengus nafas tak bisa disembunyikan, kami panik. “Sial, Ayo buruan!!” teriak Nanda sambil berlari. Sambil memastikan Ratri tidak ketinggalan aku pun mulai paham, train sudah tiba. Kami harus menunggu di seberang rel kereta untuk melintas ke tempat pemberhentian kereta. Penyeberangan ditutup selama kereta melintas. “Lah terus kenapa harus lari-lari, toh trainnya juga berenti nungguin penump…” belum sempat menyelesaikan pertanyaan, pembatas penyeberangan rel dibuka. Semua orang berlarian “Ayoo ayyooo” lagi-lagi Nanda teriak berlari meninggalkan kami yang kebingungan. Sambil berlari Nanda mastiin kita untuk ngeluarin myki, “Myki? hee? setau ku kita punya cuma 5” Sampai di seberang, terlihat antrian beberapa orang yang memegang myki dan menempelkan nya di suatu mesin entah apa lagi itu. Yah gimana dong, kita cuma punya lima. “Ayo touch on” Nanda terlihat panik sambil merhatiin train. “Lah ini kok ga mau, diapain ini?” semua mulai panik. belum sempat semua myki di-touch on-kan pintu train mulai tertutup “UDAH BIARIN AJA, AYO BURUAN MASUUUKK!!!” pontang panting kami berlari masuk ke train menyisakan suara ngos-ngosan nafas sambil diliatin bule-bule, heran.

Perjalanan Hoppers Crossing-Melbourne diisi dengan ketawa ngakak nginget kejadian di train tadi. Ternyata kegoblikan kami belum berakhir. Sesampai nya di Flinders Street Train Station kita perlu touch off kan myki yang kita gunakan sebagai tiket perjalanan. Yep, benar sekali. Myki kita cuma 5, ada 2 orang yang ga bisa keluar. Ckckck. Belum satu hari di sini udah nyari masalah. Kita pasrah, di depan gate keluar udah nunggu bapak-bapak security. Fyi denda pelanggaran public transport yang tidak menggunakan myki sekitar 70 AUD, habislah sudah. Akhirnya tanpa bersalah aku touch off kan myki punya ku. Trus aku kasi agung biar dia ga ketahuan ga bawa myki. Ternyataaaa…. ternyataaa.. ternyata ga bisa kebuka gate nya -,- selamat tinggal teman-teman, selamat terkurung di penjara, selamat dideportasi ke indonesia~ “We got trouble on this one” Nanda langsung gercep nunjukin myki waktu security datang karena melihat antrian di depan gate. “Let me try” dicoba nya sekali “hhmm…” dicobanya lagi “Oooh, No worries.” akhirnya security itu membuka gate dengan myki yang ia punya dengan muka heran. Kita saling pandang dan…. huh.

Akhirnya kita sampai dengan selamat dan harus dipenjara satu orang pun hehe. Yop, Melbourne memang kota yang indah. Di sudut kota masih terjaga bangunan artistik tua. Tak jarang juga bangunan tua itu selalu digandengkan bersebelahan dengan bangunan minimalis tren design saat ini. Wajar saja Melbourne masih menyimpan nuansa klasik dan neo klasisme, setiap nilai artistik bangunan tua pada umumnya dibawa oleh penjajah jauh sebelum Melbourne berdiri. Lihat saja bangunan kuning kecoklatan ini, Flinders Street Railway Station, yang sudah berumur 161 tahun sejak berdiri pada 1854. Pada tahun 90-an gedung ini menjadi stasiun penumpang tersibuk di dunia.  Kemegahan nya masih terasa hingga saat ini meski harus bergandeng dengan bangunan modern lainnya.

Tak kalah menyimpan sejarah, St Paul’s Cathedral, berada tepat diseberang  Flinders Street Railway Station. Bagunan ini sudah berumur 124 tahun berada tepat di jantung kota Melbourne. Masih terjaga dan terawat dengan baik, dan berhasil memberikan goresan gaya arsitektur gothik di tengah modernisasi bangunan-bangunan di sekelilingnya.

Yep, pelarian kita yang awalnya hanya untuk survey lokasi conference besok dibayar mahal dengan pemandangan kota Melbourne di malam hari. Melbourne Convention and Exhibition Centre terletak tepat di pinggir Yarra River. Sungai terbentang sepanjang 240 KM melalui kota Melbourne ini bermuara di Port Phillip Bay. Yarra River merupakan ikon penting bagi Melbourne dan di sepanjang aliran sungai ini telah dibangun Melbourne Park, Royal Botanical Gardens, Melbourne Cricket Ground, Crown Entertainment Complex, Arts Centre, Melbourne Exhibition and Convention Centre, Melbourne Aquarium, Federation Square, Melbourne Park Sport Venue, Olympic Park Sports Venue, selain itu sungai ini merupakan aset alami Melbourne juga merupakan sumber penghidupan warga Melbourne karena 70% dari air yang digunakan masyarakat berasal dari sini. Malam ini kami diberikan kesempatan menikmati keheningan sungai Yarra yang selalu menentramkan hiruk-pikuk kesibukan kota Melbourne sepanjang hari.

Perjalanan malam ini ditutup dengan mengencangkan jaket dan sesekali menghembus telapak tangan. Malam semakin gelap udara semakin dingin, namun pengalaman selalu memberi kehangatan. Melbourne Night Escape.

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *