Skip to content

Mau Kemana, Sayang?

Diusia 21 tahun sejatinya sudah cukup banyak perjalanan asam pahit kehidupan. Sudah tau mana yang benar dan mana yang perlu dibenarkan. Sudah tau yang mana yang salah dan mana yang tak perlu dipermasalahkan. Rotasi kehidupan ya begitu-begitu saja. Kita saja yang sering keliru menilai dari perspektif yang mana.

Empat hari yang lalu, tiba tiba dosen pembimbing menelfonku. Aku yakin hari ini bukan jadwal seharusnya progress skripsi. Kok tumben nelfon. Ternyata beliau meminta tolong untuk diantarkan ke rumahnya, kebetulan mobil beliau bermasalah.

“Punya siapa mas?” Pak Gun masuk duduk di kursi kiri depan.

“Oh, punya temen Pak saya pinjem”

“Kirain punya mu” senyum senyum sambil masang seatbelt.

Haha yakali Pak, knalpot motor bocor aja belum diperbaiki wkwk gumamku sambil memundurkan Honda Jazz dan keluar dari parkiran.

Bapak Setiyo Gunawan, garda depan Departemen Teknik Kimia ITS. Siapa yang tak kenal beliau. Sudah dua dekade memegang amanah selaku Sekretaris Departemen. Di lingkungan ITS maupun Alumni, nama beliau sudah terdengar di seluruh lapisan. Tapi sejak semester lalu jabatan beliau bertambah: dosen pembimbing Abdul Karim Amarullah (menuju) S.T. haha ngaco. Denger-denger Pak Gun ini super cerdas, beliau menyelesaikan pendidikan S3 tanpa harus melewati jenjang S2. Nah loh.

Sepanjang perjalanan ITS – Perumahan Dian Regency, aku memilih membuka cerita dan banyak bertanya. Tapi hari ini beliau hemat bicara, sudah satu minggu ini kondisi tubuhnya kurang fit. Sempat dirawat minggu lalu. Satu dua pertanyaan beliau jawab dengan singkat, sampe akhirnya pertanyaan kesekianku berhasil membuat Pak Gun bercerita panjang lebar.

“Mending kerja dulu mas. Disini uangnya sedikit”

Loh?” aku mulai memperbaiki posisi nyetirku, sesekali melihat kaca spion.

“Iya mas, kamu ini persis sama mahasiswa saya dulu. Dia juga diposisi yang sama, bingung mau nentuin kuliah apa kerja. Saya bilang ke dia, mending kerja dulu nanti kalau ada panggilan hati untuk kembali ke akademisi silahkan.”

“Oh gitu ya Pak. Tapi setau saya bapak bukannya pernah kerja di dunia industri gak sih, Pak?”

“Iya, dulu saya di perusahaan kesehatan. Gajinya gede mas kalau dibanding sekarang. Sempet juga ditawarin kerja di Taiwan, beberapa kali mereka invite saya untuk kesana. Tapi gak cocok dengan tipikal saya mas. Saya ini home-man. Lebih seneng pulang ke rumah ketemu anak istri dibanding berpetualang. Berapapun gajinya saya lebih seneng disini. Kalau sudah kerja disana ya semuanya hilang, yang ada dipikiran hanya kerja dan kerja. Mendingan disini mas, saya bisa jadi takmir masjid haha.”

Aku melihat tawa lepas beliau. Detik itu juga, beliau menitipkan pesan kalau kebahagian bukan sebatas materi.

“Itu pandangan saya loh mas, kalau kamu orangnya lebih seneng adventure ya monggo dicoba. Mahasiswa saya yang tadi ya gitu, waktu itu  saya ketemu lagi ternyata udah kerja di Schlumberger. Trus waktu ditanyain “Gimana? Jadi lanjut kuliah gak?” dia cuma bisa cengengesan “Enggak sepertinya pak, hehe” pasti beda tiap orang mas.”

“Hmm…” aku manggut-manggut. Sisanya aku lebih banyak diam.

“Gang yang kelima ya mas, sebelah kanan itu rumah saya.”

Aku memperhatikan sekeliling, sesekali menoleh kiri dan kanan sebelum akhirnya berhasil menangkap gedung sederhana di pojok perumahan. Bukan rumah beliau.

“Ini mas rumah saya, lagi direnovasi. Makasih banyak ya mas sudah nganterin” Pak Gun turun dan menyapa beberapa pekerja bangunan.

“Iya sama sama Pak.”

Masih bertanya-tanya mau kemana dibawa perjalanan hidup selanjutnya, aku menginjak pedal gas mobil dan sengaja berputar ke pojok perumahan tadi, sekali lagi. Pak Gun sudah punya jawaban sendiri, rumah yang tengah direnovasi dan gedung mesjid di pojok perumahan inilah yang lebih berharga dari karir maupun tumpukan rupiah; keluarga dan Ilahi.

“Hidupmu adalah pesan bagi dunia. Buatlah hidupmu menginspirasi. Dan ingat, kamu adalah penulis buku kehidupanmu di akhirat, pastikan buku itu berarti untuk dibaca.

-Meja Belajar. 19 Maret 2017 [18:59]-

Published inMy Blog

2 Comments

  1. Annisa Karna Pahlevi Annisa Karna Pahlevi

    Nice one, bg Karim. I’ll wait anothers.

    • bdulkarim bdulkarim

      Yeeaay, makasi (:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *