Skip to content

Lanjut kuliah apa langsung kerja?

Apakah dilema lanjut kuliah atau terjun ke dunia kerja menjadi bahan pikiran banyak mahasiswa tingkat akhir? Kalaupun tidak, aku mungkin jadi bagian kecil yang memikirnya.

Sempat awalnya terpikir kenapa harus meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk lanjut S2 kalau bisa tamat kuliah langsung kerja. Toh cukup sarjana saja sudah bisa masuk ke perusahaan top nasional bahkan multinasional. Punya gaji yang cukup untuk membahagiakan orangtua, syukur syukur juga bisa buat modal berumah tangga ciieee. Cukup 10-20 tahun kemudian sudah bisa menduduki posisi manager untung untung nyampe direksi. Trus kenapa harus lanjut S2?

Setelah saya cari tau sebenarnya melanjutkan studi bukan berarti kita mempertaruhkan karir di dunia kerja dengan umur yang menua untuk belajar di bangku kuliah, bukan. Tapi jauh dari itu pergi melanjutkan studi berarti pergi dari segala ketahuan kita mencari tau apa yang kita gak tau. Ribet ya. Kalau saya sih ga terlalu niat buat belajar lagi ilmu buku, tapi lebih ke ilmu alam. Belajar cara berpikir orang orang di luar sana, pola hidup mereka, wawasan baru biar punya mindset yang up to date.

Pernah juga diskusi dengan Fino setelah kunjungan ke tekkim ITB. Disana dosen dosen umumnya sudah banyak yang melakukan riset yang hasilnya sangat worth untuk dikembangkan, hasil risetnya juga jauh lebih efisien dari produk komersial sekarang, tapi pemerintah gak dukung buat dikembangkan lebih lanjut.
“Hah, itu yg bikin aku mikir mikir buat mau lanjut studi”

“Itu yang buat aku mikir2 untuk lanjut jadinya bang, kalau mereka mati nanti siapa yg lanjutin” balas Fino.
Bener juga.

Pernah baca novel Negeri Lima Menara? Sama halnya alasan Amak si Alif di novel waktu meyakinkan Alif untuk masuk ke pondok pesantren.

“…Tapi lebih banyak lagi yang mengirim anak ke sekolah agama karena nilai anak-anak mereka tidak cukup untuk masuk SMP atau SMA…
“Akibatnya, madrasah menjadi tempat murid warga kelas dua, sisa-sisa… Coba waang (kamu) bayangkan bagaimana kualitas para buya, ustad dan dai tamatan madrasah kita nanti.
Bagaimana mereka akan bisa memimpin umat yang semakin pandai dan kritis? Bagaimana nasib umat Islam nanti?”

Poinnya bukanlah saya akan menjadi ulama atau buya, tapi bagaimana menuntut ilmu sekarang diduakan. Allah juga mengingatkan kita untuk menuntut ilmu setinggi tingginya, right?

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian serta orang-orang yang menuntut ilmu beberapa derajat [ Al Mujadaah: 11 ]

Banyak juga seumuran saya yang sukanya menilai riset di indonesia jauh terbelakang, tapi akhirnya malah memilih kerja di perusahaan yang jelas jelas ga sama sekali membantu perkembangan riset indonesia hanya karena iming iming gaji yang jauh lebih sejahtera. Saya juga paham kekhawatiran yang sama sama kita pikirkan, setelah lanjut kuliah bisa apasih? Saya belum punya jawaban, karena saya juga belum sarjana hehe.

Sebenarnya yang ingin saya perjuangkan adalah bagaimana membangun diri agar bisa lebih bermanfaat dengan orang lain. Memang benar dengan bekerja di suatu perusahaan akan memberi manfaat secara tidak langsung melalui manfaat perusahaan tersebut bagi masyarakat. Tapi saya khawatir modus itu hanya karena gaji tinggi dan terjamin masa depan keluarga dan anak-anak, padahal dengan jalan lain mampu memberi manfaat lebih luas lagi. Pernah tau penemu 4G? Walaupun sebenarnya ga sepenuhnya Dr. Khoirul Anwar yang menemukan, karena 4G tidak ditemukan tapi disepakati. Dr. Anwar mengembangkan prinsip/konsep dasar dengan dua Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan, dan ini ‘dipakai’ dalam 4G uplink.

Yop, bener beliau orang indonesia. Dengan adanya prinsip tersebut koneksi internet jauh lebih ngebut dibandingkan generasi sebelumnya, sangat bermanfaat bukan? Saya kurang yakin beliau bisa menemukan 4G tanpa perjuangan keras menuntut ilmu di tingkat lanjut.

Habibie dengan julukan Mr. Crack karena paten teknologi di dunia penerbangan. Sedijatmo dikenal karena menemukan “Konstruksi Cakar Ayam”. Ricky Elson si Putera Petir dengan gagasan mobil listriknya. Beliau semua berkutik keras di dunia pendidikan (menurut saya) pasti juga dengan harapan bisa memberi manfaat lebih banyak ke orang lain.

Tapi bukan berarti bekerja tidak memberi manfaat lho. Misalnya nih saya kerja di Pertamina. Toh hasil kerja keras saya tiap hari panas panasan di plant – jaga control room – mastiin kolom destilasi bekerja optimal – dsb, akan menghasilkan bahan bakar yang dinikmati oleh masyarakat. Misalnya juga nanti kamu menjadi dokter, mendiagnosa pasien – melakukan pembedahan – memberi resep obat – dsb, juga bermanfaat bagi kesehatan orang lain kan?

Ada juga opsi bekerja dahulu dengan harapan bisa lanjut menuntut ilmu saat bekerja, sepertinya itu juga baik. Hanya saja sekali lagi saya khawatir niatnya untuk jabatan lebih tinggi hehe.

Walaupun saya belum tau bakal terjun ke dunia kerja atau lanjut menuntut ilmu setelah sarjana, apapun pilihan saya dan takdir-Nya nanti semoga niatnya untuk memperoleh Ridha Allah dan bermanfaat bagi orang lain.

Kira-kira kamu pilih yang mana?

 

-Seat 4D, Air Asia. 18 Juli 2016 [15:09]-

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *