Skip to content

Koma pun berarti

Well said, dari kemarin masih mikir-mikir udah ngapain aja sampai hari ini. Seharian cuma flashback selama 20 tahun sejak lahir udah ngelakuin apa aja, walaupun gak tua-tua amat cuma muka ya dikit boros tapi gak salah kan mulai menyusun target target yang ingin dicapai. Bukan lagi target kecil yang selama ini ya bisa dibilang sebagian besar untuk diri sendiri, tapi bukankah lebih baik orang lain juga merasakan
kebermanfaatan dengan hadirnya kita di sekitar mereka.

Kalau lah hidup ini hanya mengulang-ulang rutinitas sehari hari, tanpa memberikan arti. Lalu untuk apa hidup? Sibuk dengan kesibukan sendiri, tanpa memberi arti. Yakin itu tujuan hidup? Tapi sejujurnya untuk memberi arti ke orang lain bukanlah hal yang mudah, tak jarang aku masih mementingkan keperluan pribadi dari pada memberi manfaat ke orang lain. Pertanyaannya adalah… mau memberi manfaat yang seperti apa dan sebesar apa sih? Toh sekarang masih kuliah dan belum punya modal banyak untuk membantu orang lain. Yang lebih sulitnya lagi, aksi apa yang bisa dilakukan yang kira-kira bermanfaat bagi orang lain.

Mungkin kondisi psikologis saat masih menjadi mahasiswa ini sungguh sangat ideal. Seluruh pandangan yang muncul seakan-akan mudah saja dilakukan dan selalu saja benar. Mungkin sebagian yang lain bisa mengatakan “yasudah kita bikin organisasi nonprofit untuk membantu anak-anak pedesaan agar memperoleh fasilitas pendidikan yang layak” atau yang lainnya juga bilang “kita didirikan saja perusahaan yang menunjang pedagang sayur tradisional“. Coy, ingatlah kita mengatakan seperti itu karena posisi kita sungguh sangat ideal. Makan masih dari uang orangtua. Beli bensin dari uang orangtua. Bahkan beli pentol pun masih pake uang orangtua. Disisi lain kita mengatakan hal tersebut mudah juga karena kita belum menjalani ide-ide besar tersebut. Saat kita sudah dihadapi pilihan bekerja dengan perusahaan X  bergaji puluhan juta atau membuat yayasan peduli anak desa, baru lah semua idealisme yang dulu nya dipegang erat rontok seketika. Simple saja, semua dimulai dari pertanyaan klasik dasar manusia.

Besok makan apa ya?

Kalau aku tidak bekerja gimana ya mau belanja?

Kalau aku tidak bekerja mau ngelamar anak orang pake apa ya? Daun?

Mendingan kerja di perusahaan X dapet rumah, mobil, dan asuransi kesehatan.

Yakin nih social project ini bakal jalan?

Apa cuma nyusahin aku aja. 

Jika benar memberi manfaat ke orang banyak dianggap semudah itu, aku yakin seyakin-yakin nya gak bakal banyak yang apply kerja di perusahaan-perusahaan unggul yang gak jauh-jauh dari iming-iming gaji tinggi dan kesejahteraan pekerja.

Tenang, tulisan ini bukanlah untuk memaksa aku dan pembaca untuk semudah itu meremehkan pilihan langkah seseorang. Hanya saja pandangan aku untuk membangun sisi lain seorang mahasiswa yang kiranya nanti akan wisuda dan sudah saatnya terjun langsung ke katanya kehidupan yang nyata. Bukan berarti orang yang bekerja di perusahaan sama sekali tidak memberi manfaat, tapi jika seharian dari pukul 7 pagi sampe jam 5 sore digunakan untuk bekerja trus bekerja dan malam terlelap karena kelelahan bekerja dan semua nya dilakukan sepanjang senin sela rabu kamis jumat, rasanya terlalu banyak waktu yang dibuang untuk menjadi manusia yang memberi arti.

Hidup sekali, berarti, lalu mati.

Untuk dapat memberarti ke orang lain, beberapa orang justru memilih untuk bekerja dengan tujuan mendapatkan pengalaman, ilmu, dan modal yang cukup yang nantinya digunakan untuk membantu orang lain. Pernah tau Kapten Budi Soehardi? Yep, beliau pilot senior Singapore Airline yang mendapatkan CNN Heroes Award beberapa tahun lalu. Tapi Pak Budi gak dapet award karena bisa menerbangkan pesawat sampe ke bulan dan ketemu sailor moon kok wkwk. Tapi karena berhasil mendirikan yayasan pendidikan untuk anak-anak NTT khususnya korban pasca kejadian perebutan timor-timor dan juga karena berhasil mengoptimalkan pertanian di Kupang yang dikenal sebagai daerah yang gersang. Justru beliau rela meninggalkan karirnya agar bisa fokus bersama anak-anak NTT. Beliau juga diundang PBB untuk menjadi pembicara loh!

Cerita singkat begini, jadi saat Pak Budi dan Bu Peggy (istri beliau) berencana untuk liburan keliling dunia selama 33 hari, mereka melihat berita di TV mengenai korban pengungsian di Atambua, NTT. Mereka akhirnya membatalkan plan around the world dan berencana datang ke Atambua membawa 500Kg beras untuk korban pengungsian. Tapi target mereka meleset, setelah beberapa kali datang kesana ternyata mereka membawa 40 Ton beras! Jauh lebih gede dari niat awal mereka. Namun mereka berfikir bahwa yang mereka lakukan sudah baik akan tetapi tidak memberikan impact yang tepat. Oleh karena itu mereka mendirikan yayasan untuk menampung anak-anak NTT agar memperoleh pendidikan yang layak. Karena mereka yakin, pendidikan adalah investasi terbesar. Hasilnya? Beberapa sudah ada yang wisuda dan menjadi dokter (:

“Jika kami hanya memberi beras dan makan, itu akan habis. Jika kami memberi baju dan keperluan lainnya, itu juga akan habis. Namun kami yakin dengan memberikan pendidikan, anak-anak NTT akan tumbuh di timur untuk menjaga budayanya dan ketika suskses nanti akan kembali ke timur.

Menjadi tamparan hebat untuk aku yang saat ini menuju detik-detik berakhirnya idealisme. Saat-saat terakhir menuju kondisi egoisme akan menaklukkan kepedulian sosial. Mungkin bisa saja aku di hari nanti akan sukses dan mengulurkan tangan, tapi gak bisa dipungkiri umur siapa yang tahu, hati siapa yang tak berubah sekejap lembut sekejap membatu. Semoga masih banyak orang yang mampu memberi arti ke masyarakat sekitar, berbagi banyak hal dengan mereka yang tak berkecukupan dan kelak saat mereka telah tiada, arti kehadiran mereka selalu hidup.

Untuk Abdul Karim Amarullah yang masih selalu menghabiskan waktu hari per hari tanpa kebermanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain, berubahlah!  Saat nya memberi arti! Bahkan koma di kalimat “Hidup sekali, berarti, lalu mati” pun mempunyai arti.

 

Dalam usaha memproduktifkan diri dan melawan insomnia berkepanjangan

-Kamar. 20 November 2016 [19:56]-

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *