Skip to content

Kenapa Gunung?

Awal semester 4 ini dimulai dengan bismillah, hehe bukan, dimulai dengan terealisasinya wacana naik gunung! yeah! tak berlebihan sih excited gitu, biasanya cuma satu per berapa ribu wacana yang bisa terealisasi, dan ini salah satunya. Sebagai anak perantauan yang udah jauh-jauh datang ke sini buat kuliah, rugi rasanya ga nikmati keindahan alam tanah jawa. Sebenarnya sih di riau ada juga spot yang menarik buat nikmati alam, tapi ya ga seseru bareng teman-teman toh. So, mau kemana kita? Welirang! Well, buat pendaki newbie kayak aku sih welirang cukup menantang. Gunung ini terletak diantara malang dan mojokerto. Kalau ga salah kira-kira 3165 MDPL, lumayan kan? Welirang berasal dari kata “walirang” yang artinya belerang. Kebukti di puncak gunung banyak tambang belerang, kalau di riau namanya Sulphur Mine.

Okay, semua nya udah ngumpul di kosan sukron. All equipment checked. Ini aku kenalin anak-anak yang ikutan ke welirang. Ini nih:

member

 

Sip, sudah tau kan siapa aja yang ikutan… here we go… Pendakian ke welirang harus ditempuh dengan perjalanan menggunakan motor selama kurang lebih… berapa ya aku lupa, 2 jam atau 3 jam gitu lah… arah-arah ke Malang tapi aku ga tau persisnya kemana. Selesai isya berangkat dari kosan sukron, nyampe di pos pendakian sekitar jam 9an. Disana udah menunggu “teman gunung” Wisnu, Mas Ardhi, sambil ngepul rokok. “Suwi kon le” ngomong gitu karena kami telat banget dari rencana awal. Selesai mendaftar di pos pendakian, kita bikin lingkaran, berdoa.

Aku ga bakal cerita detailnya gimana perjalanan welirang, at least kenapa harus mencoba naik gunung.

1. Menyatu Dengan Alam

Sadar atau tidak, selama kita terlalu membangun dunia dengan teknologi-teknologi saat ini. Waktu kosong kita isi dengan teknologi, misalnya lagi ga ada kerjaan, pengen ketawa, yang terlintas di pikiran kita ya pasti smartphone! Benda kotak ini bisa bikin kita ketawa sambil lihat postingan Dagelan di instagram, atau lihat vines di youtube, atau sekedar buka group angkatan lihat chat anak-anak. Dan perjalanan malam itu mengingatkan, sudah lama tak bersama alam. Hanya jalan setapak yang diterangi cahaya redup head lamp, menyusuri hening kaki welirang. Tak ada musik, tak ada hiruk piruk kota, tak ada nada notifikasi line, semuanya terbungkam rapat dengan sahut-sahutan suara jangkrik menyatu dengan memilir angin malam. Aku yakin ini momen langka disaat hectic nya perkuliahan. Berangkat ke kampus jam 7, full kelas dan praktikum, sorenya kegiatan kampus, nyampe di kamar tinggal sisa waktu menuju pergantian hari. Namun malam itu, jejeran 9 pendaki meniti jalan setapak berhasil menghilangkan suramnya dunia perkuliahan, menurutku.

2. Dekat Dengan Tuhan

Touchdown! Kita sudah sampai… tapi bukan puncak -_- baru nyampe di pos pertama. Langsung bikin tenda, shalat, masak air, bikin minuman hangat. Setelah semuanya beres kami memilih untuk beristirahat, karena sekarang sudah dini hari dan nanti setelah subuh harus melanjutkan perjalanan menuju puncak. Cara tuhan memeluk hambanya berbeda-beda, waktu itu semua nya udah tidur, cuma aku sendirian yang ga bisa tidur. Aku lupa ganti baju ku yang tadinya basah karena keringat, dingin, sangat dingin. Aku baru sadar setelah badanku kedinginan. Baju, jaket, handuk, semuanya aku masukkan kedalam sleeping bag supaya dingin ga nembus ke badan ku. tetap saja, aku terlanjur kedinginan. Hypothermia. Dalam hati aku sudah membayangkan, ini pendakian pertama dan terakhirku. Aku udah kebayang, anak-anak ga bisa naik ke puncak karena harus nganterin aku turun, trus aku diterbangkan ke riau, tinggal kenangan. (sedih pek) Jangankan untuk membangunkan teman disebelahku, untuk ngomong pelan aja ga bisa, aku gemetaran, menggigil seluruh badan. Yang bisa aku lakukan hanya berdoa, baca ayat al-quran dalam hati, setidaknya kalau iya pun berkahir tinggal kenangan, aku berakhir dengan baik. Dan semuanya berakhir saat aku buka mata… Sudah pagi (^-^)/ yeay masih hidup!

3. Real Fun!

Alasan kenapa naik gunung itu seru karena semua yang kita lakukan bareng-bareng. Makan bareng, jalan bareng, tidur bareng, mandi bareng (ini bohong, kita ga pernah mandi), ketawa bareng, bully ikhwan bareng! Jiahaha… ini nih korban bully tenda….

4. Ketidaktahuan = Kekuatan

Oh ya, aku mau cerita tentang MvP Welirang kita, please welcome…. taraaa~ adriiiaaaaan… *prokprokprookk~ Adrian berhasil memberi paling banyak cerita berkesan di pendakian welirang ini. Salah satu nya tentang sabotase mie menjadi tenda! Waktu siap-siap di kosan sukron kita udah bagi barang-barang bawaan, tapi sepertinya di pojok sana ada orang yang masukin stock makanan banyak betuulll… yang lain pada bawa kompor, air, tenda, dan perkakas lainnya ini bocah malah nimbun makanan! kita mah senyum-senyum aja pura-pura engga tau… “Rek, aku ke Indomaret dulu, nyari makanan” sambil mengunci rapat carrier (tas gunung) yang udah disusun rapi nya. “yooo.. jangan lama kon” teriak siapa lah itu ga inget. Kami saling pandang… cliiiiiinnggg~ ternyata pikiran kita sama.. matekk kon yan! buahaha Kita langsung gantiin makanan yang ada di tas adrian dengan tenda yang paling gede.. kita keluarin stock makanannya biarin dia yang bawa tenda xixixixiii pikiran syaithon memang anak-anak ini…

Di tengah perjalanan kami makin ngakak ngelihat adrian yang paling semangat naik, bukan main dia lari-lari ndaki, ga tau kalau carrier nya yang paling berat, muka diapun ga keliatan letih, lemah, atau lesu. Tetap stylish. Noh, lihat ini.

adrian

 

mukanya berseri-seri~ yaiyalah buanyaaak makan kan di dalam tas jiahaha… Waktu udah nyampe di pos, langsung buru-buru mau masang tenda. Adrian teriak “Ayo nah, keluarin tenda nyaaa…” Arek-arek lo ngakak “Tenda di kon leee..” Mvp langsung meriksa tasnya yang full makanan, pikirnya. “Jannn…. bisanyaaaa…. zas@#542fdsd45asf” adrian ngamuk.

5. Permen Karet

Siapa sih yang naik gunung tapi ga pengen sampe kepuncak. Ada sih bagi orang-orang yang udah pro kayak wisnu yang menilai puncak hanyalah permen karet, kalau dapet ya syukur kalau ga dapet sih gpp, golongan ini lebih menikmati tiap detik perjalanan, karena mereka tau permen karet bakal pahit kalau lama-lama dikunyah. Sampe di pos 3, pos terakhir pendakian sebelum ke puncak. All equipment load out. Yang dibawa cuma badan. sedikit makanan, dan banyak air, biar ga tewas waktu makan permen karet. Wisnu sama mas Ardhi ga ikutan ke puncak, maklum dengkul kikukikuukk~ hehe. Perjalanan ke puncak emang lebih mendaki, tapi motivasi untuk ke atas lebih tinggi, jadi ga kerasa capeknya. Dan kita di atas awan!

IMG_1807

panda

K53

 

 

 

dan benar memang permen karet pahit di akhir nya! ga kuat mau turun mama sayang heee…. semua badan pegel-pegel, apalagi kaki. Aku ingat adrian ngomong ke wisnu waktu malam-malam hujan perjalanan turun welirang “Nu, kita tidur disini aja” yang lainnya udah duluan turun nih ceritanya tinggal wisnu sama adrian aja berdua. “iyo turu kene… kon ae!” xixixi pahit memang.

6. Menunduk untuk Memuncak!

IMG_1735

 

Kau ingin memuncak?

Buang ego mu!

Kau ingin memuncak?

Jaga ambisi mu!

Kau ingin memuncak?

Ingat teman mu!

Kau ingin memuncak?

Menunduk lah!

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *