Skip to content

Faiz sudah lho, kamu kapan?

Jum’at, 26 Mei 2017.

17:12 Delapan menit sebelum Maghrib

Aku memarkirkan motor di teras kontrakan, sedikit terburu-buru melempar sepatu ke sembarang tempat. Iya, aku harus segera membersihkan diri, sebentar lagi adzan maghrib petanda tamu agung segera berkunjung.

Kamarku tepat di balik ruang tamu, berhadapan dengan kamar Faiz dan Adrian. Dari teras yang penuh dengan motor aku tau hampir semuanya sedang di kontrakan. Aku bisa mendengar suara Hadi, Adit, Acil, dan Agung sesekali di lantai dua, sepertinya tak mau kalah denganku menyambut tamu spesial kali ini. Faiz seperti biasa masih asik dengan laptopnya, kadang tertawa sendiri dengan headset di kepala. Adrian sepertinya masih bermain hp atau apalah di dalam kamarnya, pintunya tertutup. Bergegas ku lewati ruang tamu yang sedikit berantakan karena Obby dan Faris sudah beberapa hari menginap disana, mengambil kunci kamar di saku, dan segera meletakkan tas di sudut ruangan 3 x 3 meter itu.

“Ayook coy!!! mandi bersih-bersih. Udah mau maghrib loh” aku sedikit berteriak sengaja berjalan ke arah dapur agar yang di lantai dua juga kedengaran.

Masih belum ada respon dari mereka, aku tak terlalu peduli. Segera ku ambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Suasana kontrakan mulai riuh saat Agung dan Acil mulai turun, mengajak yang lainnya untuk mempersiapkan diri. Iya, kali ini kita akan menyambut tamu sangat luar biasa. Tamu yang belum tau entah kapan lagi akan berkunjung, entah kapan lagi bisa menjamu, entah ini kunjungan terakhirnya. Tamu yang sungguh mulia, Ramadhan.

17:20 Adzan Maghrib

Ada yang berbeda kali ini saat kami menuju mesjid di belakang perumahan. Biasanya tak seramai ini jamaah yang hadir, tak sebanyak ini pula sandal yang berjejer halaman mesjid. Momen yang membuat ku bahagia, semakin bahagia lagi saat ku tahu semua sendal di kontrakan berada di antara sandal-sandal ini.

18:32 Ba’da Maghrib

Faiz masuk ke kamarku sambil membawa Al-Quran. Tumben sekali, gumamku. Memang tidak terlalu sering Faiz datang ke kamar, apalagi mau duduk berlamaan di kamarku karena biasanya ia selalu nyaman dengan kamarnya yang berserakan bermain laptop di kamarnya sendiri.

“Ngaji lah kau Iz” aku meledek sambil merebahkan diri di kasur.

“Mending kau periksa hafalan aku, Rim.” Muka Faiz songong sambil duduk di kursi belajar ku.

“Hmm, ayok lah”

Faiz memulai hafalannya dengan membaca surah Al Fatihah dilanjutkan ke surah Al Baqarah. Awalnya aku biasa saja mendengarkan sambil memperhatikan satu persatu bacaannya. Satu halaman pertama sudah dihabiskan, hafalan Faiz sangat lancar. Di pertengahan aku memperbaiki beberapa bacaan yang kurang tepat. Igo yang baru saja datang ikut menyimak, bedanya Igo tak perlu membuka Al Quran untuk sesekali memperbaiki atau sekedar mengikuti hafalan Faiz.

Mendengarkan dan menyimak hafalan itu ternyata menyenangkan, apalagi yang didengarkan itu adalah teman sendiri. Saking asyiknya aku tak sadar sudah melihat tanda akhir juz pertama di kiri bawah halaman Quran, EDAANN!! Temen yang keliatannya kerjaannya cuma laptopan, tiap hari dotAan, suka titip beliin makan, dan kamarnya super berantakan tapi hafal beberapa Juz AlQuran!!!

Orang yang membaca dan menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari 4937)

Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat. (HR. Muslim 1910).

….. dan aku mulai tidak fokus memperhatikan, bertanya-tanya ke diri sendiri “Rim, kapan mulai menghafal Al Quran?”

-Kamar. 04 Juni 2017 [21:21]-

Published inMy Blog

One Comment

  1. Lia Lia

    :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *