Skip to content

Eucalyptus and Bamboo

00:13 Bamboo: Euc, kenapa koala suka meluk pohon?

00:14 Bamboo:  (koala)

00:14 Eucalyptus: Karna seburuk buruknya koala, pohon tetep setia untuk dipeluk

00:14 Bamboo: Loh, subjek nya koala bukan pohon

00:15 Eucalyptus: Yah karna itu koala suka meluk pohooon

00:15 Eucalyptus: Gimana siih

00:15 Eucalyptus: Karna pohon setia, maka koala suka

00:15 Bamboo: Oooh gitu…

00:15 Bamboo: Euc…

00:15 Bamboo: Apa arti kesetiaan?

00:15 Eucalyptus: Ya?

00:16 Eucalyptus: Setia itu

00:16 Eucalyptus: ….

00:16 Eucalyptus: *trus tidur*

00:16 Bamboo: Loh, Euk… aku nanya

00:18 Eucalyptus: Menurut kbbi. Setia adalah berpegang teguh pada janji, patuh, dan taat.

00:18 Bamboo: Kalau pohon mulai layu dan ga sanggup menopang koala, itu tidak setiakah?

00:19 Eucalyptus: Setia itu ga bisa dari satu sisi

00:19 Eucalyptus: Pohon dan koala harus terus setia

00:20 Eucalyptus: Saat pohon sudah mulai layu dan lelah, dia harus tetap setia dan mau dipeluk koala

00:20 Eucalyptus: Saat koala menemukan pohon yg lebih kuat, dia harus setia pada pohon yang telah setia pada dia

00:20 Eucalyptus: Ah

00:20 Eucalyptus: Tidak juga

00:20 Eucalyptus: Lalu apa arti setia?

00:21 Eucalyptus: Kesetiaan sejati hanyalah kesetiaan kita kepada Allah

00:21 Bamboo: Tapi Euk, aku ragu yg mana setia yg mana hawa nafsu atau kepentingan pribadi

00:22 Bamboo: Tau gak kenapa koala meluk pohon? Karena di aussie itu puanas Euc, dia meluk untuk dinginin badannya

00:22 Bamboo: Trus benefit bagi pohon apa?

00:22 Bamboo: Daunnya dimakan

00:22 Bamboo: Dahan nya diduduki

00:23 Eucalyptus: Keadilan yang hakiki itu hanya datang dari Allah Mboo

00:23 Eucalyptus: Taukah rezeki sang pohon itu sudah ada

00:24 Eucalyptus: Bukan berarti dia harus mendapatkannya dr sang koala

00:24 Eucalyptus: Balik lagi masalah setia

00:25 Bamboo: Cuma kita yg selalu melihat dari sisi baiknya aja Euk, coba puter ke sudut lain… koala makan makan dan makan… jangan lupa, koala juga boker Euk! Itu pupuk yang sangat baik untuk pertumbuhan pohon

00:25 Eucalyptus: Oke kamu nanya masalah setia?

00:26 Eucalyptus: Konteksnya dalam pasangan?

00:27 Bamboo: Iya Euk, karena setia itu pasti dua sisi atau lebih

00:27 Bamboo: Pohon koala

00:27 Bamboo: Bamboo panda

00:28 Eucalyptus: Hem

00:28 Eucalyptus: Apa?

00:29 Bamboo: Jadi Euk, setia itu gimana/

00:29 Bamboo: Euk, kamu udah baca kisah jutawan indo yg ngerawat istrinya yg lumpuh selama 25 tahun?

00:30 Eucalyptus: Belum

00:30 Eucalyptus: Coba ceritakan

00:30 Bamboo: Aku share aja ya, baca sendiri

00:30 Eucalyptus: Ya

00:30 Eucalyptus: Ya

00:31 Bamboo: Photos

00:31 Bamboo: Photos

Isi photonya:

Sang Miliader, Merawat Sendiri Istri Selama 25 Tahun

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang tokoh di balik kemajuan industri reksadana di Indonesia sekarang ini, juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini. Ia tergolong miliader.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan,  pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini, bukan hendak  menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi,  kesehariannya yang luar biasa.

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja,  bahkan sudah mendekati malam. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Cobaan menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun.  Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan TV, agar tidak merasa kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara,  selalu hanya terlihat senyum. Untunglahkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya untuk  makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun  bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun….

Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya – karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing – Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya dapat berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, si anak sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang

00:31 Eucalyptus: Menurutku, setia adalah komitmen. Dan balik lg, kesetiaan kita kepada Allah lah yang sejati

00:31 Bamboo: Photos

Isi photonya:

“Sudah ke empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti ini, kami  tidak tega melihat bapak, kami berjanji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian,” tambah si melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku… Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian.” Sejenak kerongkongannya tersekat.

“Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta,  tidak satu pun dapat dihargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga menyaksikan butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, yang dengan pilu menatap mata suami yang sangat dicintainya.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta di Jakarta untuk menjadi narasumber. Host mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa? Di saat itulah meledak tangis Pak Suyatno, bersama tamu yang hadir di studioyang kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Pak Suyatno bercerita: “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinan tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semua itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, yang sewaktu  sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan dengan mata. Dia memberi saya empat anak yang lucu-lucu. Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama,  itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Jika dia sehat pun, saya belum tentu mau mencari penggantinya, apalagi dia sakit,” katanya sembari berurai air mata.

Setiap malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas saja. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan kepada Allah

00:38 Bamboo: Euk?

00:39 Eucalyptus: Hmm

00:40 Bamboo: No comment?

00:40 Eucalyptus: Setia itu komitmen

00:40 Bamboo: Okay, noted!

00:41 Bamboo: Kalau sudah komitmen, trus something happen…

00:41 Eucalyptus: Komitmen mu bukan kepadaNya. Bukan kepadanya.

00:42 Bamboo: Ha typo a? (up)

00:42 Eucalyptus: Komitmen kepada Allah. Bukan ciptaannya

00:42 Eucalyptus: Itu maksudku

00:42 Bamboo: Oke baiklah…

00:42 Bamboo: Next casess

00:42 Bamboo: Masih sanggup?

00:42 Eucalyptus: Ya

00:43 Eucalyptus: Photos

photo

00:43 Eucalyptus: *tiiiiiit* udh ga sangup tp

00:43 Eucalyptus: Wkwkwkwk

00:43 Bamboo: ah ga setia *tiiiiiit*

00:43 Bamboo: Aku nemu kalimat ini:

00:44 Bamboo: “ada saat ketika kau tak mampu berbahagia, kecuali dengan menyakiti orang lain.”

-@hurufkecil

00:44 Bamboo: How?

00:44 Eucalyptus: Aku ga setuju

00:45 Bamboo: Monggo dijelaskan

00:45 Eucalyptus: Ada saat kamu bahagia, dan yang lain tersakiti. Itu lebih bisa aku terima.

00:45 Eucalyptus: Karna aku ga setuju ada kondisi dimana kita bahagia dengan menyakiti orang lain

00:45 Eucalyptus: Tp aku percaya ada kondisi dimana saat kita bahagia, ada pula yg merasa tersakiti.

00:46 Eucalyptus: Bahkan ulama berkata, gila kamu, ketika kamu mengharap semua orang menyukai kamu.

00:46 Eucalyptus: Bahagia bersama kamu.

00:46 Bamboo: Dokter nyuntik aku waktu kecil, aku kesakitan, dokternya bahagia bisa imunisasi aku. Itu gimana?

00:47 Bamboo: Ah itu, aku tau kalimat itu. Pada akhirnya, tak semua orang yg mampu kau buat bahagia.

00:47 Eucalyptus: Nah itu bukan sang dokter menyakiti kamu

00:48 Eucalyptus: Dokter itu menyemboohkan dan menyelamatkan kamu

00:48 Eucalyptus: Tp kamu merasa tersakiti

00:48 Eucalyptus: Beda imboohan beda arti

00:48 Bamboo: Mmm… leh ugha

00:49 Eucalyptus: Ia bahagia, dan kamu merasa tersakiti

00:49 Eucalyptus: Bukan ia bahagia dengan menyakiti kamu

00:49 Bamboo: Kalau sudah terlanjur ada yg tersakiti, harus ngapain Euk?

00:50 Eucalyptus: Hem…

00:50 Bamboo: Dicabutkah jarum suntiknya?

00:51 Eucalyptus: Kamu menyakiti. Atau ia tersakiti?

00:51 Bamboo: Kok aku? Dokter

00:51 Bamboo: Dokter melakukan itu, dan ada yg tersakiti

00:51 Eucalyptus: Dokter itu melakukan kebaikan

00:52 Eucalyptus: Dokter itu menyakiti kalo dia tusuk2 kamu pake jarum

00:52 Eucalyptus: Dokter itu melakukan kebenaran, lalu kenapa harus di cabut sang jarum?

00:53 Eucalyptus: Selama yang ia percayai adalah benar, lanjutkan

00:53 Bamboo: Tapi kalau diluar konteks dokter melakukan kebaikan, oke misal someone doing something, but he/she didnt know that will be someone hurted by him/her self?

00:53 Bamboo: What should she/he do?

00:54 Eucalyptus: Kujawab pake bahasa indonesia aja ya

00:54 Bamboo: Yoi

00:56 Eucalyptus: Ketika ia melakukan sesuatu dan tidak tau bahwa ada yg tersakiti, ga masalah. Tp saat tau bahwa ada yg tersakiti, sudah sepantasnya dia berubah. Karna menjaga perasaan orang lain itu penting.

00:57 Eucalyptus: Aku pernah baca satu kalimat yang selalu membooat aku berfikir sblm bertindak

00:57 Eucalyptus: “Hati hatilah, banyak hati yang perlu dijaga”

00:57 Bamboo: (‘:

00:57 Eucalyptus: Oke aku berusaha menjabarkan

00:59 Eucalyptus: Yg kita harapkan adalah win win solution kan? Ketika kita berbuat, ada yg tersakiti. Pilihannya adalah, kita berhenti dan ia tidak tersakiti lagi, atau kita lanjut dan membooat ia tidak tersakiti lg meski kita tetep lanjut.

00:59 Eucalyptus: Mana yang lebih mudah?

00:59 Bamboo: Berhenti

00:59 Eucalyptus: Salah, mana yang bisa kamu lakukan?

00:59 Eucalyptus: Kamu ga bisa untuk merubah orang lain. Yg bisa kamu lakukan hanya berharap

01:00 Eucalyptus: Tp kalo diri sendiri, dgn sangat leluasa kamu meubahnya

01:00 Bamboo: Belum bisa ku jawab, mungkin bisa setelah pertabyaan ini terjawab:

01:00 Bamboo: Euk, ini sudah disuntik dan banyak yg ngelihat kesakitan… dicabutkah? Gimana kalau yg disuntik kesakitan? Belum diimunisasi malah infeksi

01:00 Bamboo: Dan yg ngelihat tetap kesakitan?

01:00 Bamboo: Makin banyak yg sakit

01:00 Eucalyptus: Banyak yg ngelihat kesakitan maksudnya?

01:01 Eucalyptus: Banyak yg melihat dan yang melihat kesakitan?

01:01 Bamboo: Iya mama nya papa nya sedih dan sakit melihat anaknya disuntik

01:01 Bamboo: Iya yg ngelihat kesakitan, anak nya ga tau sakit apa engga

01:04 Eucalyptus: Aku takut jawabnya Mboo

01:04 Eucalyptus: Karena aku ga tau apakah kamu merupakan imunisasi yang tepat untuk sang anak

01:05 Bamboo: ga ada yg menjanjikan itu imunisasi yg tepat apa engga, sama sekali ga ada yg menjanjikan

01:05 Eucalyptus: Karenanya aku ga bisa menjawab dan memastikan

01:06 Bamboo: Lantas, aku harus jawab apa pertanyaan mu tadi? Yang mana yg bisa ku lakukan?

01:06 Bamboo: Come on dude, sanggupkah kamu ngelihat kesakitan disana disini…

01:07 Bamboo: Dokter juga punya hati! Ngerasain siapa yg sakit!

01:07 Eucalyptus: Kalo memang jawaban ku bisa jadi sangat berarti. Aku takut. Kalo aku suruh mencabut padahal sesungguhnya imunisasi itu satu satu nya yg dibutuhkan anak. Tapi kalo aku katakan lanjutkan padahal imunisasi itu tidak cocok?

01:07 Eucalyptus: Ya aku paham. Aku jg masih berfikir

01:08 Eucalyptus: Aku masih berfikir

01:08 Eucalyptus: *kemudian tidur*

01:08 Bamboo: Euk, ada jaminan buat dokter mencabut dan tak ada yg tersakiti?

01:09 Bamboo: Yah Euk, ini masih didalam lo suntiknya, yg ngeliat teriak teriaj

01:09 Eucalyptus: Tidak

01:09 Eucalyptus: Bener katamu

01:09 Eucalyptus: Bisa jadi setelah dicabut sang anak infeksi dan tersakiti

01:09 Eucalyptus: Tp Bisa jadi setelah itu ada dokter yang bisa membawa obat yang lebih tepat untuk sang anak

01:10 Eucalyptus: Ah tak ada jaminan

01:10 Bamboo: Nah, itu kekhawatiran terbesarku

01:10 Bamboo: Euk, tetap menambah jumlah yg tersakiti

01:10 Eucalyptus: Apa kebahagiaan sang dokter?

01:10 Eucalyptus: Melihat sang anak sehat?

01:11 Eucalyptus: Melihat papa mamanya tidak tersaikiti?

01:11 Bamboo: Melihat semua nya bahagia dan anak itu sehat

01:12 Bamboo: Ideal sekali seperti itu

01:12 Eucalyptus: Iyaa

01:12 Bamboo: Dokter nya harus berkorban apa?

01:12 Eucalyptus: Makanya

01:13 Eucalyptus: Photos

1

01:13 Eucalyptus: Photos

2

01:13 Eucalyptus: Photos

3

01:13 Eucalyptus: Photos

4

01:13 Eucalyptus: Photos

5

01:13 Eucalyptus: Photos

6

01:13 Bamboo: *Reading*

01:14 Bamboo: (‘:

01:14 Bamboo: Mana suntik nya?

01:15 Eucalyptus: Wkwkwk

01:15 Eucalyptus: Aku harus tidur Mboo :’)

01:15 Eucalyptus: Sorry bgt

01:15 Bamboo: Okay, thanks alot Euk. Peluk pohon sana

01:16 Eucalyptus: Tp lanjutin esok

01:16 Eucalyptus: Atau dikesempatan lain

01:16 Eucalyptus: Aku masih mecari jawaban

01:16 Eucalyptus: Dan mencari suntikan

01:16 Bamboo: siiip.. kalau lagi free line aku yaw

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *