Skip to content

diam-perhatikan-pahami

Banyak yang bilang kalau belajar bukan semata menghabiskan waktu di depan kelas memperhatikan guru atau dosen berjam-jam sambil membolak-balik tumpukan kertas, tapi belajar sejatinya kita lakukan sepanjang waktu.

Sebagai mahasiswa ya jelas pasti aku selama ini mendefinisikan belajar ya saat menghadiri kelas-kelas yang membosankan, buku-buku tebal, dan sensasi menahan kantuk yang berakhir dengan scroll-scrol smartphone padahal gak ada notif sama sekali. Klasik. Tapi belakangan ini Alhamdulillah aku bisa merasakan sudut pandang yang jauh lebih luas mengenai arti belajar. Belakangan ini aku juga memahami, bukankah dalam proses belajar kita sebaiknya lebih banyak diamperhatikanpahami. Bukan sebaliknya: lantang-ingin diperhatikan-ingin dipahami!

Hidayah Pandangan ini aku dapet bukan dari pelatihan atau seminar maha dahsyatnya dengan kalimat-kalimat yang kadang aku sendiri gak paham (tapi biar keren ya ngangguk-ngangguk aja lah ya), tapi justru dari praktikan-praktikan ku sendiri. Ya! Dari mereka aku mempelajari bagaimana arti belajar sebenarnya.

Dari interaksi praktikan-asisten laboratorium Kimia Organik semester ini aku menyadari dalam proses tes awal yang biasanya asisten akan menanyakan seabreg pertanyaan teoritis dan suprematis mengenai reaksi hidrolisis dengan tatapan yang sinis *wkwk apalah itu*, ada sisi lain yang harus aku pelajari. Memahami. Di awal tes awal aku akan selalu bertanya mereka siapa. SIAPA? Ya! Aku selalu menarik jauh kebelakang apa yang pernah mereka alami, apa yang sedang mereka alami, dan apa yang ingin mereka alami.

Simple saja. Aku selalu membuka dengan “Aku pengen kenalan dong sama kalian, boleh ya?” trus setelah tau namanya aku lanjut dengan kepoin asal daerah mereka. Untuk apa? Come on guys, alam dan lingkungan bahkan jin-jin tiap daerah itu beda, dan mereka lah yang membentuk kepribadian seseorang. “Oooh arek Suroboyo toh, SMA berapa dulu?” padahal aku tau ini anak bau bau SMALA “SMA 5 dulu, mas” tuh kan bener. Trus baru aku coba memahami latar belakang keluarga mereka. Yang selalu aku inget dan selalu aku pegang adalah: Family where life begins and love never ends. Wajar dan sangat lumrah untuk kita mengetahui ada spirit besar dan sebesar apa yang seseorang punya dari keluarga.

Hasilnya menakjubkan! Dari pertanyaan simple tadi aku mulai memahami kalau tidak semua orang terlahir dengan standar yang sama, tidak semua orang berkembang dengan fasilitas dan lingkungan yang sama, tidak semua orang mempunyai latar belakang keluarga yang sama, dan satu lagi, tidak semua sama-sama inginkan hal yang sama. Disini aku belajar untuk diam, sejenak mendengarkan cerita kecil mereka. Ada yang bercerita ia harus pisah (gak sesedih yang kalian bayangkan sih) dengan keluarganya buat sekolah diluar kota. Masih tanya kenapa? Ya biasa, orang tua selalu rela berkorban untuk melihat masa depan anaknya yang lebih cerah, termasuk merelakan anak perempuannya tak lagi menemani di rumah. Lucu juga waktu denger ada yang curhat kalau gak belajar sama sekali karena sibuk dengan kegiatan organisasi mahasiswanya, sampe mabok kalau reagen PP dimasukin ke larutan HCl bakal berubah jadi warna merah muda. Hhmmm. Ingin rasanya ku keluarkan kamehamehaaaaa~ Ada juga yang bercerita sebenarnya bukan keinginannya buat masuk jurusan Teknik Kimia. “Terus kenapa kok milih Tekkim” aku kepo. “Iya mas, tetangga saya yang suruh masuk Tekkim” LAAAHH??!! bbzzz. Nah disini seni nya gaes. Tetaplah diam. Tak perlulah tertawa atau terpancing untuk sok belagu ngasih quotes lalayeye pendapat like a boss. Bukankah kita sudah sepakat untuk lebih banyak memahami?

Oh ya satu lagi, tak semua pelajaran yang kita peroleh bisa dateng dengan sendiri. Tak semua dapat dilakukan dengan diam dan memahami, kadang pelajaran itu juga sok jual mahal loh. Jadi kita nya yang perlu memperhatikan lingkungan sekitar. Yeah, lucu-lucu sebenarnya waktu memperhatikan diam-diam tingkah laku adik-adik praktikan. Kadang mereka diem-diem ngubah hasil percobaan padahal ya mereka sendiri yang kebingungan waktu jelasi di laporan resmi (lapres). Ada lagi yang pura-pura serius banget nimbang di neraca analitik waktu disamperin, eh lupa kalau belum dinyalain wkwk Trus ada juga yang (entahlah ya mungkin aku yang ge-er) malah diem-diem memperhatikan asisten. Nah loh! Ketauan kon. Yaelah, orang lirik-lirik, dia lirik-balik. Dan dia cowo wkwk gak deng, cewe lah. Sering juga aku memperhatikan ambisiusitas mereka saat praktikum, lari sini lari sana yaapa caranya percobaan mereka berhasil tepat waktu. Tapi ada pula yang pasrah banget udahan kalau ditanyain di ruang asisten, mukanya melas gitu kayak bilang “Mas mbak silahkan kalau mau bunuh saya segera bunuh saya, jangan siksa saya seperti ini. Tuhan, cabut nyawa ku sekarang juga!”

In the end, i would to say thank for praktikan-praktikan ku kece. Terimakasih sudah menyadarkan ku bahwa tak selamanya belajar itu harus mendongakkan kepala ke tokoh-tokoh masa kini atau membaca buku seabreg buku tebal hingga dini hari, tapi cukup dengan diam-perhatikan-pahami lingkungan sekitar sejatinya aku bisa belajar, belajar untuk menjadi diri yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

-Meja Belajar. 10 November 2016 [00:19]-

Published inMy Blog

2 Comments

    • bdulkarim bdulkarim

      besok ke BPS go wkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *