Skip to content

But, You Can’t Care Without Giving

Foto ini diambil pada 5 November 2017, pukul 13 :53 WIB di salah satu warteg di depan Halte Bidara Cina, Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur.

Siang itu aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri sejatinya masih banyak orang baik yang dengan tulus mengulurkan tangan membantu orang lain. Sekilas dari gambar diatas terlihat dua kakak beradik sedang makan siang di warung makan. Tapi akan berbeda kalaulah kalian kebetulan berada di tempat itu, mendengarkan si mba (yang aku gak tau namanya, dan maaf ya mba aku diem-diem fotoin*) nawarin si adik buat milih lauk apa yang dia mau membuat aku paham ternyata mereka tidaklah kenal satu sama lain.

Yang aku ingat, si adik juga terlihat bingung ketika ditawari untuk memilih makanan untuk makan siang kali ini. Bingung karena selama ini sangat jarang bisa melihat lauk pauk terhidang hangat dengan nasi putih yang mengepul di piring yang digenggamnya. Beberapa kali aku dengar si mba menyuguhi untuk memilih lauk yang si adik inginkan. “Sayurnya yang mana? Mau telur juga gak, dik?” hingga akhirnya mereka duduk di kursi dan meja kayu dengan segelas es teh untuk si adik. Dengan malu-malu perlahan si adik mulai menyuap makanan yang ada di depannya.

Aku tetap diam mendengarkan obrolan sederhana yang berusaha dibuka si mba, bertanya si adik tinggal dimana, kelas berapa, umurnya berapa, dan pertanyaan-pertanyaan bersahabat lainnya yang dengan sabar menunggu jawaban malu dari si adik. Sesekali aku menoleh ke kanan, penasaran dengan kebaikan yang ada pada diri mba nya. Dari perawakannya aku bisa menembak si mba adalah mahasiswi, mungkin mahasiswi STIS karena setauku tidak jauh dari lokasi ini.

Selama empat tahun aku menjadi mahasiswa, memang sering aku jumpai orang yang kurang mampu menghampiri saat makan atau di tempat umum. Yang aku lakukan hanyalah memberi uang recehan, tak jarang aku hanya melempar senyuman memohon maaf karena gak bisa memberi apa-apa. Bodohnya, memberi uang receh pun aku seperti merasa sudah membantu banyak untuk mereka. Apa benar dengan memberi berarti aku peduli? Tapi selama empat tahun itu juga aku belum sama sekali pernah mengajak mereka duduk bersama, sekedar minum atau makan makanan ringan, bertanya apakabar dan dimana gerangan mereka tinggal. Jangan-jangan mereka tak punya tempat tinggal? Bercerita santai, mendengarkan kisah mereka, bertanya apakabar ibu bapak dirumah. Jangan-jangan mereka tak lagi punya ibu bapak? Apalagi rumah?

You may give gifts without caring, but you can’t care without giving.

Ini kedua kalinya aku menoleh, memperhatikan mereka berdua. Sesekali si mba tertawa mendengar cerita si adik, mungkin untuk menyenangkan hatinya. Untuk beberapa menit itu ia tak peduli dengan notifikasi handphonenya, pun sama sekali tak menghiraukan tas hitam nya yang sesekali terjatuh. Ia lebih banyak memandangi si adik yang lahap menghabiskan makananan. Apa juga memandangi masa lalu?

Entahlah, aku sama sekali tak mengenalnya.

Tapi kenal sekali dengan apa yang ia perbuat: Kepedulian, kebaikan yang tak ternilai dengan mata uang.

Yesh, I do believe caring causes a ripple effect. She rips my ignorance, and i hope this post will rip yours.

-Ruang tengah rumah, Sungai Pakning 09 Jan 2018-

*waktu aku motoin lupa hape ku belum mute dan kedengeran suara jepretan -,- hadeeeuh maap ya mba

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *