Skip to content

Becak, Nasibmu Kini

Bapak tukang becak dengan wajah lesu menatap kosong jalanan yang ramai.

Foto ini saya ambil tadi sore di depan Hotel Grand Inna Medan tempat saya menginap. Yang menarik bagi saya untuk mengabadi momen ini adalah handphone yang beliau genggam, bukan sebuah smartphone. 

Hampir seminggu saya di Medan, tiap pagi dan sore melihat jejeran becak di pinggir jalanan, mungkin baru sore ini pertanyaan saya terjawab. “Emang masih ada ya yang mau naik becak? Kok bapak-bapak ini gak join gojek aja?” Ada, sebagian kecil ada yang memilih becak, tapi sangat kecil jumlahnya dibanding pengguna transportasi online. Termasuk saya dan teman-teman yang sampai hari ini gak tau diri berdiri disamping pemilik becak menunggu jemputan gocar mengitari kota Medan. Mungkin handphone digenggaman beliau itulah salah satu jawaban kenapa beliau memilih tidak (semoga saja belum) mengikuti arus digitalisasi, bukan mereka tak mau, tapi tak mampu. Bisa jadi tak mampu secara finansial, tak mampu untuk mengoperasikan, atau tak mampu meninggalkan kenangan becak yang selama ini menjadi sahabat hujan terik aspal jalanan. Ehee (:

Inilah yang disebut bahaya Disruption.

Prof. Rhenald Kasali mendefinisikan disruption sebagai hal baru yang mampu mematikan incumbent (pemain lama). Ciri khasnya jelas; tidak terlihat, ide baru, dan mematikan. Perlu saya dan teman-teman pahami perbedaan antara innovation,  invention dan disruption adalah pada seberapa kejamnya ia “membunuh” pemain lama. Inovasi muncul karena adanya celah yang mampu di-improve, tujuannya adalah meningkatkan nilai tanpa menghilangkan unsur utama gagasan awal. Misal nih, inovasi becak tertutup dan ber-AC. Idenya tetep sama, becak, tapi dengan pembaruan sebagian pengguna akan melirik ke becak AC yang lebih adem dan gak berdebu. Penemuan (invention) sendiri bermain pada dimensi yang berbeda, bukan lagi dalam lingkaran becak itu sendiri, mobil contohnya. Nuuun jauh bertahun-tahun yang lalu, mungkin becak kayuh adalah idola kendaraan bagi masyarakat indonesia, tapi setelah adanya penemuan kendaraan bermotor muncullah innovation (becak motor) dan invention (taksi) yang keduanya menggeser eksistensi becak kayu. Fokus pada taksi, penemuan ini tak sekaligus menghilangkan pengguna becak. Karena taksi dan becak berada di dimensi pasar yang berbeda. Becak untuk menengah kebawah, sedangkan taksi laris bagi kaum menengah keatas. Azeeek, tumben cerdas, Rim. Nah, yang ngeri itu disruption bero! Doi datang tiba-tiba, ide yang belum pernah ada, bermain di dimensi yang sama, dan mematikan. Gojek misalnya, siapa yang pernah berpikir kita bisa dengan mudahnya sambil tiduran memesan ojek, dalam hitungan menit ojeknya udah ada di depan pintu tanpa perlu jalan ke pangkalan, jangan lupa kunci pintu. Target pasar mereka pun sama, kalangan menengah kebawah yang memerlukan kendaraan untuk berpergian. Lalu siapa yang mati? Ya, bapak yang tadi sore saya temui itulah salah satunya.

Usahanya yang mati, beliau belum.

Untuk temen temen yang membaca tulisan ini, khususnya diri saya sendiri, ayuk kita bantu siapapun yang bernasib serupa dengan Bapak ini. Mungkin bisa dengan cara menggunakan becak ke random place yang ditengah perjalanan kita sempetin buat ngobrol dengan mereka, bertanya kira-kira kenapa beliau masih bersikukuh mencari nafkah dengan cara lama. Gak rugi rasanya kita keluarin uang yaa 10-20 ribu lah yaa hitung-hitung jalan sore buat mendengarkan cerita mereka, jangan-jangan mereka cuma butuh sedikit lagi keyakinan untuk berani meninggalkan becak tuanya, kitalah yang menyakinkan.

Siapa tau nanti saat menunggu jemputan gojek/grab/uber kita tak lagi melihat wajah murung mereka di pinggir jalanan, tapi senyuman bahagia terpampang di layar aplikasi jemputan online (:

-Lobby Grand Inna, [22:01] 25 Maret 2018-

Published inMy Blog

4 Comments

  1. Dhoni Dhoni

    Seperti biasa tulisan yang menarik

    • bdulkarim bdulkarim

      Terimakasih Mas Dhoni, semoga ada manfaatnya

  2. Zizi Zizi

    Duuul aku juga sering merasa kasian sm bapak2 becak. Di tempat tinggalku, Pasuruan, dan mungkin kota-kota kecil lain, masih banyak becak kayuh di mana2. Dan setiap aku lewat berbagai jalanan, banyak yang cuma diem nunggu penumpang di pinggir jalan. Sedangkan kebanyakan orang (termasuk aku) sudah pada bawa kendaraan pribadi masing2 dan naik ojek online yang dengan harga sama bisa menempuh jarak yg lebih jauh bahkan.

    Makasi Duul sudah mengingatkan 🙂
    Mungkin selain naik becak beliau2 yg mgkn ndak bisa kita lakuin setiap hari, kita bisa mendoakan bapak2 becak yg kita lihat di sepanjang jalan 🙂

    • bdulkarim bdulkarim

      Makasi mba Zizi udah nyempetin baca tulisan ini ya. Memang kondisi nya sekarang kita udah masuk di era ketidak pastian. Bahkan transportasi online sendiri juga belum pasti menjanjikan untuk jangka panjang. Entah itu akan tersandung oleh kebijakan regulator atau malah kehilangan investor. Karena selama ini yang aku tau tahapan awal dari sebuah start up (termasuk perusahaan transportasi online) adalah tahapan “bakar bakar uang”. Mereka bisa menekan harga jasa ojek semurah itu karena ada suntikan dana dari investor, bahasa lainnya mereka sengaja rugi hanya untuk membuat kita ketergantungan. Ketergantungan ke kampus pake ojek, mesen makanan pake gofood, belanja pake ini itu dsb. Akan ada satu titik dimana owner akan menaikkan harga dan konsumen gak melarikan diri, ya karena udah ketergantungan. Coba deh mba Zizi bandingin harga gofoos zaman pertama kali launching sama sekarang, muahal gile haha.
      Nah itu yang bisa membuat ketidakpastian nasib para pengemudi, nasib mereka tergantung investor dan regulator.

      Yeep, bener banget aku setuju Zii. Gak ada yang lebih hebat dari doa orangtua dan orang yang diemdiem mendoakan kebaikan untuk orang lain (:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *