Skip to content

Pulau Hujan

Bangun lebih awal pagi ini, tak ada yang lebih menyenangkan selain bisa meluangkan waktu dengan orang tua. Sejak kemarin malam Papa mengingatkan kalau pagi ini aku bakal menemani berobat ke Bengkalis. Hampir tiap aku pulang ke rumah, pasti ada jadwal ini. Suatu hal yang menyenangkan masih bisa mengabulkan permintaan orang tua. And you should know, mama papa jarang minta ini itu, mereka sejak anak anak nya mulai tumbuh remaja sudah membiarkan kami mandiri. Selagi kami masih di jalur yang tepat, GO AHEAD!

Aku harus mendapatkan penyeberangan pertama pagi ini,  agar bisa tiba lebih awal dan tidak harus mengantri panjang di RSUD Bengkalis. Sudah genap 20 tahun umurku, lahir dan tumbuh besar di tanah Pakning ini; tak banyak yang berubah – untuk berobat sebagian besar penduduk harus menyeberangi Selat Bengkalis menggunakan Kapal Ferry. Ah sudah, aku takkan bercerita mengenai ketidak adilan pembangunan malam ini.20160625_132627-1600x900

Penyeberangan pertama pukul 6:45 pagi, dan sialnya tinggal 7 menit lagi saat motor maticku melesat menuju Pelabuhan  RoRo (Roll on Roll) Sungai Pakning-Bengkalis. Haruskah aku keluarkan kemampuan anak jalanan ku? terlintas sebentar skill 3 menit menembus ruwetnya Keputih di pagi hari menuju kampus, tapi kuurungkan, tak tepat rasanya skill itu aku aplikasikan saat ini. Setelah membayar Rp. 25.000 untuk tiket sekali penyeberangan, pemandangan yang tak aku inginkan benar benar terjadi. Parkir motor dan mobil sepi, hanya tampak 5-7 buah motor di jejeran antrian pintu masuk, itu berarti Ferry penyeberangan pertama sudah berlayar. Aku punya waktu luang untuk melihat sekeliling, barangkali ada yang baru di pelabuhan ini sejak setahun lalu aku mengantarkan Papa berobat setahun yang lalu. Sialnya, ga ada yang berubah sama sekali -_- hanya pohon bakau yang semakin tergerus erosi pantai.

Aku masih mencari tau bagaimana awalnya Kec. Bengkalis menjadi Ibu Kota Kabupaten Bengkalis. Padahal secara geografis, Kab. Bengkalis terbagi menjadi dua wilayah: daratan sumatera dan kepulauan. Kenapa harus PULAU menjadi pusat pemerintahan? Bukankah justru merepotkan? Coba bayangkan, untuk mengurus administrasi saja seluruh penduduk (kecuali yang sudah di pulau bengkalis) harus menyeberang menghabiskan waktu seharian hanya untuk mengantar berkas, belum lagi kalau ternyata ada berkas yang tertinggal, atau ada yang harus direvisi. Ngeehheeee… puas lah kau nyeberang aja kerjaan kau haha 😀 Padahal luas pulau tersebu hanya 6,59% dari total luas kabupaten, otomatis jumlah penduduk juga lebih dominan di luar pulau bengkalis. Dengan kata lain, hampir 93,41% harus menyeberang dulu jika berurusan dengan pemerintahan kabupaten; bikin SIM, perpanjang STNK, berobat, bayar pajak, pengurusan IMB, dan hal cetek-bengek (re: terlalu banyak) nya. Sekali nyeberang motoran berdua: Rp. 25.000 trus balik nyeberang lagi Rp. 25.000 itupun kalau urusan sudah kelar, kalau bolakbalik semingguan karena ga kelar kelar? Mammaaamm! Anehnya lagi di pulau itu ga ada apa-apanya, ga ada sumber daya alam, ga ada industri, ga ada obyek wisata, ga ada obyek cuci mata hehe entah lah akupun tak paham lagi. Ify, untuk kebutuhan sehari-hari seperti sayur, beras, buah-buahan warga disana harus menunggu “bantuan” dari Ajo pasa panggaleh sayua (re: minang; tukang jualan sayur) yang biasanya menggunakan truk membawa hasil alam Sumatera Barat. Nonsense bangetkan kenapa sampe sekarang masih aja pusat pemerintahan disana. Idk.

Oh ternyata kami tak harus menunggu lama untuk menyeberang pagi ini, sepertinya ada penambahan armada ferry untuk bulan ramadhan. Tak sampai 10 menit menunggu gerbang masuk menuju ferry dibuka, walaupun hanya sedikit kendaraan. 45 menit kedepan, menyeberangi Selat Bengkalis.

Meskipun jarang mengunjungi pulau ini aku sudah hampir hafal semua rute jalanannya, tidak sulit untuk menuju ke RSUD Bengkalis. Di sana sudah mengantri banyak sekali pasien, mereka datang dari berbagai tempat. Hal yang selalu ku benci saat mendatangi sebuah rumah sakit adalah aku selalu iba melihat wajah pasien yang menahan rasa sakit yang mereka miliki. Sementara Papa mengantri di loket registrasi, aku memilih duduk di kursi seberang. Prediksi ku tepat, pasti banyak waktu luang. Dari tas sandang hitam yang ku bawa, aku mengeluarkan novel bercover biru. Dan jarak cukup jauh pasien maupun keluarga pasien yang duduk disekitar ku dapat membaca dengan jelas judul novel itu; Hujan. Secara garis besar aku sudah tau kalau novel ini akan “datar-datar” saja, kecuali pada bagian endingnya. But, it seems worth to spend my time by reading, jauh lebih berharga dari pada menghabiskan waktu berselancar di dunia maya. Dan satu hal, Tere Liye selalu berhasil membawa suasana natural dari segi psikologis, budaya, norma, habit, dan banyak hal lainnya yang akan membawa pembaca berdecak “yaaa aku bisa merasakannya” aacciiieee~

Menurutku ini novel yang masuk kategori: lumayan. Pembawaan Tere Liye memang tak banyak berubah, selalu membawakan fiksi berdasarkan fakta umum yang diketahui banyak orang. Misal di novel hujan ini, kombinasi imajinasi penulis yang membawakan cerita jauh ke tahun berapa yaaa 2045 kalau ga salah, tapi masih menyematkan info umum yang banyak diketahui pembaca, contohnya letusan gunung Tambora dan gunung krakatau yang sangat dahsyat. Nah kan seru tuh, ada imajinasi khayalan tapi juga ada memori yang diketahui banyak orang. Selalu menarik hati. Resiko “flat story” bisa ia atasi dengan membuat alur-alur penasaran, membuat pembaca bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi? bagaimana kelanjutannya? tapi untuk novel ini cukup mudah menebak pertanyaan itu, ibaratnya fiftyfifty. Kalau gak A ya B yang akan terjadi, makanya aku bilang novel ini “lumayan”, karena masih banyak trik dan sulap Tere Liye yang mampu membuat pembawa berfikir keras menerka-nerka kelanjutannya, dan berakhir dengan… “Suummpppaah?? gak nyangka hiks” . Begitulah kira-kira.

Satu hal yang baru kusadari dalam novel Hujan, mungkin juga di novel lainnya, selalu ada nilai yang dijaga oleh Tere Liye. Bagi yang sudah membaca novel ini pasti sudah tau betapa pilunya menjadi Lail yang dalam diam mencintai (ciieee~) Esok, tapi sampai 7 tahun sejak mereka bertemu tak pernah sekali pun ia tau apakah Esok juga merasakan hal yang sama. Kesibukan Esok yang menyita banyak waktu di Ibu Kota membuat mereka terpisah jarak dan waktu, hanya 1 hari dalam setahun mereka bertemu. (Inilah salah satu hal yg membuat penasaran, sehari dalam setahun ngapain aja tu orang) Tapi coba perhatikan, dari awal novel ini Tere Liye selalu menjaga nilai yang hendak ia tanam ke pembaca. Meski mereka saling memendam rasa, tak sama sekali pun ada cerita Esok menyentuh Lail, sekalipun tidak. Apa susahnya bagi penulis menyisipkan “…dan mereka berpelukan di pinggir pantai di kala senja itu mengobat rindu setahun tak bertemu…” itu mungkin menambah rasa haru pembaca toh ini zaman 2045 siapa yang peduli dengan sepasang remaja berpelukan di pantai, but nope, Tere Liye hanya mengulangi di setiap satu hari tiap tahun Lail dan Esok bertemu dengan kata yang selalu ia ulangi “… mereka tertawa bersama & bercerita banyak hal…”

Hampir 2/3 novel ku baca ketika Apoteker memanggil nama yang telingaku sangat kenali, itu berarti seluruh prosedur pengobatan sudah Papa lalui dan bisa mengambil obat. Pukul 12:27, RSUD Bengkalis masih cukup padat. Mungkin karena akhir minggu, penduduk dari penjuru negeri menyempatkan berobat ke sini. Aku segera mengambil motor di parkiran, dan bergegas menuju pelabuhan seketika Papa sudah siap dibelakang. Ku tarik tuas gas, tidak kencang cukup untuk mengejar waktur sambil menghitung hitung kemungkinan ferry sudah menyeberang kah atau masih berada di pelabuhan. Jangan sampai terlambat.

30 menit berlalu, kami sudah berada di ruang penumpang. Ferry cukup sepi. Armada satu ini cukup nyaman dibandingkan yang kami gunakan tadi pagi, pendingin ruangan bekerja baik, funitur terawat, dan bersih.

“Kamu suka nulis, Rim?” tiba-tiba Papa bertanya setelah lama melirik aku membawa novel.

“Hhmm… Lumayan hehe”

“Bagus tu, tak banyak yang suka menulis” lanjutnya.

“Tapi gak sering juga, biasanya nulis di web” aku menutup novel sebentar.

“Iya harus sering dilatih. Orang yang bisa menulis itu bisa mengatur pemikiran dengan baik dan runtut. Punya emosi yang baik, dapat dituangkan di tulisan. Papa paling gak bisa nulis, apa yang dipikiran papa gak bisa ditulis. Entahlah ya, melompat lompat. Kalau disuruh nulis pembukaan aja sudah bingung. Cuma bisa nulis intinya, ga bisa mengembangkan. Kadang baru teringat diakhir, tapi untung sekarang sudah ada komputer. Apa yang teringat diketik aja dulu, nanti bisa dimasukkan dimana kita mau haha” Ujar Papa sambil melihat hamparan Selat Bengkalis.

“Iya, biasanya yang jago nulis itu banyak membaca buku atau sudah punya banyak pengalaman, jadinya dia bisa menulis banyak hal” Aku mencari-cari pembatas novel halaman terakhir ku baca tadi.

“Betul tu” Papa memperbaiki posisi duduknya, bersiap untuk istirahat sepanjang perjalanan. “Alhamdullillah anak anak Papa udah selesai semua ya, tak ada lagi jadi pikiran” dalam dan random.

20160626_014014-1600x1200

Aku selalu senang membaca di tengah perjalanan, entahlah mungkin karena pemandangan dan situasi yang membuat tidak bosan. Kali ini langit biru dan selat bengkalis yang coklat di pinggiran menemani “ritualku”. Kapal ferry bergerak perlahan mencoba melawan arus, seiring dengan hujan yang perlahan memberikan aku banyak pelajaran.

Dari Maryam aku belajar, hal paling bahagia di dunia ini adalah membuat orang lain bahagia.

Dari Ibu Suri aku belajar, sungguh tiap Ibu selalu mendambakan anak (panti) nya berhasil meski sekeras apapun caranya.

Dari Bapak Wali Kota aku belajar, amanah lah yang harus digenggam meski akhirnya kau tau selama ini kau menggenggam bara api.

Dari Claudia -gadis cantik ini- aku belajar, tetaplah rendah hati.

Dari Ibu Esok aku belajar, mengikhlaskan.

Dari Ibu Wali Kota aku belajar, tak ada beda antara gaun indah dan seragam sukarelawan.

Esok mengajariku, lelaki sejatinya ditakdirkan untuk bekerja keras, cerdas, dan setia.

Lail diakhir mengajariku, sabarlah menunggu dan seburuk apapun kenangan jangan pernah dilupakan, peluklah erat!

…dan dari kecil papa selalu mengajariku untuk selalu bersyukur, sekecil apapun itu… hujan maupun terik…

20160626_014410-1600x900

-Kamar belakang, rumah. 26 Juni 2016 [01:47]-

Published inMy Blog

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *