Skip to content

Jogja ada-ada saja

Jogja ada-ada saja

Mereka bilang kau tak lagi sama, ntah siapa mereka. Aku rasa biasa saja. Pagi hari masih saja mengagumkan, hiruk pikuk manusia belum mampu mengalahkan syahdu pagimu. Memang sesekali diperempatan jalan aku lihat banyak yang tak sabaran, menahan lengan yang hendak menancap gas kendaraan. Setidaknya tak seperti di sini, kota pahlawan ini, terlalu banyak pahlawan kesiangan hingga perlu kebut-kebutan.

Jogja ada-ada saja

Aku mendatangimu kali ini, harap harap cemas menuliskan kisah disini. Mereka bilang disini kota pelajar, ntah pelajar yang mana. Yang kulihat hanya ribuan calon pengangguran mengular panjang berpanas-panasan. Satu dua dari mereka meletakkan kertas siluman, yang lain sibuk mengetik data siluman. Curriculum vitae bahasa kerennya. Keren memang. Perjuangan 4 tahun ditulis menjadi dua halaman. Tak bagus bagi perusahaan, ya dibuang. Hei! Tau apa mereka tentang perjuangan, tau apa mereka dengan pengorbanan, tau apa mereka tentang tiap goresan kertas dan data siluman calon pengangguran yang seenaknya mereka buang! Dan aku pun sama saja, melihat diam.

Jogja ada-ada saja

Mama bilang pergilah belajar, aku malah memilih berdiri dibarisan yang mengular. Bukannya suksesku hingga hari ini berkat doa Mama, perkataan juga doakan? Mama berkata “pergilah belajar”, sangat jelas sejelas itu juga akan dikabulkan.

Jogja ada-ada saja

. . . . .

Published inUncategorized